Jika ISIS Hancur, Pengikut Asal Indonesia Akan Menyebar

Oleh Farid M. Ibrahim    •    2017-02-17 10:55:01 WIB
Jika ISIS Hancur, Pengikut Asal Indonesia Akan Menyebar
Para pengikut kelompok teroris ISIS asal Indonesia.

Kelompok teroris ISIS saat ini semakin melemah di Suriah dan Irak. Jika ISIS hancur, para pengikutnya yang berasal dari Indonesia dan masih selamat kemungkinan akan menyebar ke berbagi negara, karena sulit untuk bisa lolos kembali ke Indonesia. Di sisi lain, di kalangan teroris ISIS ini pun ternyata terjadi korupsi.

"Bisa ke Libya, atau berbagai hot spot di kawasan Asia Tenggara," kata Solahudin, peneliti terorisme pada Universitas Indonesia (UI), dalam kuliah umum di Melbourne University, Australia, Kamis (16/2/2017) malam, yang diikuti wartawan ABC Farid M. Ibrahim.

Solahudin yang mantan Sekjen AJI kini merupakan Visiting Scholar pada Asia Institute Melbourne University.

Menurut dia, karena pihak berwajib di Indonesia telah mengetahui hampir semua pengikut ISIS yang pergi ke Suriah dan Irak, maka para pengikut ini, jika masih hidup, pasti akan kesulitan untuk kembali masuk ke Indonesia dengan mudah.

"Mindanao di Filipina akan menjadi pilihan utama mereka, begitu pula Myanmar," kata Solahudin, seraya menambahkan bahwa Pemerintah Filipina tidak pernah mengantisipasi para eks Suriah atau returnee karena memang hampir tak ada warga Filipina yang pergi ke Suriah gabung ISIS.

Apalagi, kata Solahudin, Mindanao telah dipilih oleh para pemimpin ISIS asal Indonesia sebagai tujuan jika para pengikutnya mengalami kesulitan ke Suriah saat ini. Bahkan Amir ISIS untuk Asia Tenggara berasal dari sini, yaitu Isnilon Totoni Hapilon.

Saat ini Turki yang menjadi jalur tradisional untuk masuk ke Suriah semakin memperketat perbatasannya, sehingga para pengikut ISIS termasuk dari Indonesia banyak yang tertahan dan dideportasi. Menurut catatan Solahudin, sepanjang 2015/2016 sekitar 350 warga RI dideportasi dari Turki.

Banyaknya warga RI yang lolos ke Suriah dan Irak terjadi di tahun 2013 ketika Turki saat itu justru memperlonggar perbatasannya dengan dalih membantu kaum oposisi Suriah. Namun sejak 2015 upaya masuk ke Suriah menjadi lebih sulit.

Menurut Solahudin, pemimpin ISIS bernama Aman Abdurrahman mengeluarkan pernyataan. Isinya memberi tiga pilihan kepada pengikutnya di Indonesia, yaitu tetap berupaya pergi ke Suriah, melakukan jihad di Indonesia, atau cukup memberi sumbangan dana untuk apa yang dia sebut sebagai jihad di Indonesia.

20110513020619ok00.gif
Solahudin, peneliti terorisme di Indonesia.

Hal inilah, kata Solahudin, yang menjelaskan mengapa sejak 2015 terjadi peningkatan serangan teroris di Indonesia, yang semuanya dilakukan oleh pengikut ISIS.

Namun dari segi kualitas serangannya, justru terlihat terjadinya penurunan drastis baik dari segi jenis bom yang dipergunakan maupun jumlah korban. "Ini kabar baik bagi kita," ujar Solahudin.

Bahkan, katanya, sepanjang tahun 2016 terjadi enam kali serangan bom bunuh diri yang justru menewaskan keenam pelakunya sendiri tanpa adanya korban tak berdosa yang meninggal.

"Perencanaan mereka semakin buruk. Di Solo pelaku bom bunuh diri bahkan membawa KTP," jelasnya.

Korupsi

Terkait masalah pendanaan terorisme, Solahudin mengungkapkan fakta menarik. Dia menyebut adanya peretasan perusahaan keuangan asal Malaysia oleh pelaku di Medan yang berhasil membobol dana sebesar Rp 7 miliar.

Ironisnya, katanya, dana yang dimaksudkan untuk kepentingan "jihad" mereka itu dikorup.

"Yang terjadi, dana ini dipakai untuk membeli rumah mewah yang ada kolam renangnya, mobil dan motor," kata Solahudin. "Hanya sekitar Rp 200 juta yang dikirimkan ke Poso."

Lebih ironis lagi, kata Solahudin dana tersebut lantas dipergunakan untuk kawin.

Perselisihan akibat masalah dana pula yang menyebabkan terjadinya perpecahan di antara para pemimpin ISIS, yaitu antara Abu Jandal dan Bahrumsyah.

"Abu Jandal menuduh Bahrumsyah melakukan korupsi dana sehingga meminta pemimpin ISIS untuk menggantinya. Karena permintaannya ditolak, Abu Jandal lalu membentuk grupnya sendiri terpisah dari Bahrumsyah," jelas Solahudin.

Di bagian lain pemaparannya Solahudin menjelaskan Suriah dan Irak tadinya dipandang sebagai "one way ticket of jihad" sehingga pengikut ISIS ada yang menjual seluruh harta bendanya dan memboyong seluruh keluarganya ke sana.

"Ada PNS yang terbilang pejabat di Batam yang memboyong 27 anggota keluarga besarnya termasuk nenek berusia 78 tahun karena ingin hidup di bawah hukum syariah," katanya.

Fenomena Suriah ini, katanya, memang beda dengan Afghanistan di tahun 1980-an. Waktu itu ada faktor pendorong di dalam negeri Indonesia yaitu tekanan rezim Suharto yang membuat jihadis pergi ke Afghanistan. Namun, bukan untuk berperang tapi untuk mendapatkan pelatihan militer.

"Saat ini di Suriah, yang ada justru faktor penarik (pull factor). Faktor pendorongnya (push factor) sama sekali tidak ada, karena umat Islam di Indonesia tidak dalam keadaan ditindas," paparnya.


(Australia Plus ABC)