Protein Alternatif Yang Makin Digemari Bisa Ancam Industri Daging

Zalika Rizmal dan Jess Davis    •    2017-11-22 12:21:37 WIB
Protein Alternatif Yang Makin Digemari Bisa Ancam Industri Daging
Protein

Menurut sebuah laporan internasional, konsumsi makanan seperti buncis giling yang menyerupai daging, serangga dan daging olahan laboratorium, belakangan ini, terus meningkat dan menantang industri daging konvensional.

Laporan yang diterbitkan oleh pakar agribisnis Rabobank memeringatkan industri daging Australia tidak boleh berpuas diri, mengingat preferensi konsumen yang berubah mendorong pertumbuhan industri protein alternatif.

Lonjakan industri protein alternatif

Kepala penelitian Rabobank di Australia dan Selandia Baru, Tim Hunt, mengatakan bahwa para peternak dan perusahaan makanan harus memperhatikan perkembangan ini dengan seksama.

"Ada berbagai faktor tarik ulur yang mendorong orang tak terlalu menerapkan gaya hidup vegetarian, namun mereka lebih ke pemakan daging yang ingin mengurangi konsumsi daging karena berbagai alasan atau mencoba sesuatu yang berbeda," kata Hunt.

Industri protein alternatif terkuat berada di Eropa dan diprediksi tumbuh 8 persen per tahun selama lima tahun ke depan, mengambil sepertiga dari semua pertumbuhan di pasar.

Hunt mengatakan, sementara pasar Australia mungkin sedikit lebih lambat untuk mengatasi kegemaran baru ini, penting bagi industri daging lokal untuk belajar dari pasar luar negeri.

"Tren ini memiliki kebiasaan untuk menemukan jalan mereka ke pasar kami dan akan sia-sia untuk tidak belajar dari pelajaran mereka."

"Penting untuk mengenali apa yang mendorong makanan pengganti ini dan memanfaatkannya, jadi kami bisa berpartisipasi dalam tren yang sama dengan yang diharapkan oleh produk baru ini."

Nama daging akan dipertahankan

Tahun ini, para peternak sapi perah Australia telah melobi untuk menghentikan alternatif susu seperti almond dan kedelai dari penggunaan kata 'susu' pada produk mereka.

Hunt percaya bahwa upaya serupa sedang dilakukan untuk makanan dengan kata-kata yang berhubungan dengan daging.

"Kita bisa melihat bahwa itu sudah dimulai dan tak hanya berlaku di seputar penggunaan istilah 'daging'."

Hunt mengatakan, itu termasuk apakah kemasan bisa mencakup istilah seperti 'daging' atau menampilkan gambar hewan.

"Saya pikir itu adalah pertarungan yang adil untuk diperjuangkan dan pertahanan garda depan yang berharga," kata Hunt.

Permintaan terdorong konsumen

General manager Life Health Foods, Dean Epps mengatakan, perdebatan tentang penamaan produk semacam itu hanyalah isu pendamping.

Epps mengatakan bahwa perusahaan tersebut telah menyaksikan kenaikan permintaan yang konsisten untuk produk nabati mereka.

"Kami mengalami pertumbuhan dua digit dari tahun ke tahun dan telah berjalan selama tiga tahun terakhir tanpa ada pertanda untuk menyerah," kata Epps.

Permintaan itu didorong oleh konsumen yang dimotivasi oleh manfaat kesehatan, lingkungan dan kesejahteraan dari produk tersebut.

Badan tertinggi untuk industri daging Australia mengatakan bahwa pihaknya melawan langkah itu menjauh dari produk daging, dengan berinvestasi dan mempromosikan keberlanjutan serta kesejahteraan.

Industri daging bersiap diri

CEO Dewan Industri Daging Australia (AMIC) Patrick Hutchinson mengatakan bahwa memenuhi harapan konsumen tentang bagaimana daging diproduksi dan diproses sangat penting bagi keberhasilan industri ini.

"Apa yang ingin dilakukan orang adalah memastikan bahwa apapun yang mereka konsumsi adalah sesuatu yang akan bergizi bagi mereka, diperlakukan secara etis dan juga berkelanjutan untuk masa depan jangka panjang.”

"Dan itulah apa yang disediakan oleh industri daging merah dan daging babi Australia."

Hutchinson mengatakan, tak peduli seberapa besar perubahan industri daging, akan selalu ada orang yang memilih untuk tidak makan daging.

"Dan itu pilihan mereka dan kami semua mendukung tiap orang punya pilihan," sebutnya.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.


(Australia Plus ABC)