Cadar dalam Islam

Zuhairi Misrawi    •    Kamis, 15 Mar 2018 14:03 WIB
Cadar dalam Islam
ILUSTRASI: Komunitas Niqab Squad melakukan aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (10/9)/ANTARA/Puspa Perwitasari.

PADA tahun 2008, Kementerian Wakaf Mesir menerbitkan sebuah buku yang berjudul al-Niqab ‘Adatun wa Laysa ‘Ibadatan. Artinya, cadar adalah kebiasaan, bukan ibadah. Buku ini ditulis oleh para ulama terkemuka Mesir, yaitu Syaikh Muhammad Sayyed Tantawi, Grand Syaikh al-Azhar dan Syaikh ‘Ali Jum’ah, Mufti Mesir. Secara khusus, Mahmud Hamdi Zaqzouq, Menteri Wakaf Mesir memberikan kata pengantar dalam buku ini.
 
Langkah yang diambil Kementerian Wakaf Mesir ini bukan sebuah kebijakan yang bersifat tiba-tiba, melainkan sebagai respons terhadap pertanyaan publik perihal hukum menggunakan cadar dalam Islam.
 
Di tengah menguatnya arus politik identitas dan kelompok-kelompok ekstremis di Mesir, cadar menjadi salah satu isu yang mulai mencuat di permukaan, umumnya fenomena tersebut berlaku di kampung-kampus umum. Ada yang beranggapan, bahwa cadar merupakan esensi ajaran Islam. Benarkah demikian?
 
Maka dari itu, Kementerian Wakaf Mesir mengambil inisiatif untuk menyampaika kepada publik perihal kedudukan cadar dalam Islam. Harapannya publik bisa mengetahui, bahwa kedudukan cadar dalam Islam hanya sebagai kebiasaan, bukan ibadah.
 
Pada tahun 2009, al-Azhar mengambil sebuah kebijakan penting, bahwa memakai cadar dilarang untuk seluruh jenjang pendidikan yang berada di bawah naungan al-Azhar. Syaikh Muhammad Sayyed Tantawi berpandangan, bahwa cadar hanya kebiasaan dan tidak masuk katagori ibadah. Bagaimana argumen para ulama al-Azhar tersebut?
 
Menurut Syaikh Muhammad Sayyed Tantawi, mayoritas para ulama fikih telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa wajah dan kedua telapak tangan perempuan bukan aurat. Pandangan ini mengacu pada ayat al-Quran, Katakanlah (Nabi Muhammad SAW) kepada orang-orang mukmin perempuan; hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan hiasan (bagian tubuh) mereka, kecuali yang (biasa) tampak darinya dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (QS. al-Nur [24]: 31).
 
Imam Ibnu Jarir al-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan, bahwa yang dimaksud dengan janganlah mereka menampakkan hiasan (bagian tubuh) mereka, kecuali yang (biasa) tampak darinya, yaitu wajah dan kedua telapak tangan. Pandangan al-Thabari ini juga diperkuat oleh para ulama fikih, seperti Imam al-Nawawi, Imam Malik, al-Awza’i, Abu Tsawr, Abu Hanifah, Ahmad, danlain-lain.
 
Menurut Tantawi, sebagian besar ulama tafsir, hadis, dan fikih sepakat, bahwa wajah dan kedua telapak tangan perempuan tidak termasuk aurat. Pandangan tersebut semakin mengukuhkan bahwa menggunakan cadar tidak masuk dalam katagori ibadah, melainkan hanya sebagai kebiasaan belaka.
 
Syaikh Ali Jum’ah sependapat dengan pandangan Syaikh Tantawi di atas. Ia mengutip sebuah hadis yang dikisahkan oleh Siti Aisyah, bahwa Rasulullah SAW pernah menegur Asma binti Abu Bakar yang dalam sebuah pertemuan menggunakan pakaian tipis. Rasulullah SAW menyampaikan, bahwa perempuan yang sudah mencapai usia baligh hendaknya menutup aurat, yaitu kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.
 
Tidak ada kewajiban bagi seorang perempuan untuk menutup wajahnya atau memakai cadar, karena dalam Islam yang disebut sebagai aurat bagi perempuan adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Bahkan menurut Syaikh Ali Jum’ah, sebagian ulama mazhab Imam Malik berpandangan bahwa menggunakan cadar bisa masuk dalam katagori makruh, jika pemakaian cadar bukan menjadi kebiasaan masyarakat setempat. Mereka berpandangan bahwa cadar termasuk dalam katagori berlebih-lebihan dalam beragama (al-ghuluw fi al-din).
 
Pandangan ini jika diterapkan di Tanah Air menemukan konteksnya, karena cadar bukan menjadi kebiasaan sebagian besar perempuan. Artinya, menggunakan cadar bisa masuk dalam katagori makruh.
 
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, Seorang perempuan hendaknya tidak menggunakan cadar dan tidak memakai sarung tangan. Hadis ini juga menjadi argumen penting, bahwa wajah dan kedua telapak tangan tidak termasuk aurat bagi perempuan. Jika menggunakan cadar diperintahkan oleh Rasulullah, niscaya belum tidak melarangnya.
 
Syaikh Ali Jum’ah berpandangan, bahwa persoalan pakaian sangat terkait dengan dengan kebiasaan suatu kaum. Jika masyarakat lain yang menerapkan mazhab Imam Ahmad bin Hanbal yang cenderung mewajibkan cadar seperti di Arab Saudi, maka hal tersebut diperkenankan karena mengacu pada kebiasaan mereka dan tidak ada kaitannya dengan landasan keagamaan.
 

Pandangan ulama al-Azhar di atas sejatinya dapat menjadi pegangan kita dalam memahami cadar. Intinya, cadar bukan ibadah. Cadar hanya kebiasaan yang hanya dapat diadopsi dalam masyarakat tertentu, seperti di Arab Saudi.

 
Sebuah pemandangan yang menarik kerap kita temukan, jika perempuan-perempuan Arab Saudi meninggalkan negaranya untuk bepergian ke luar negeri, sebagian dari mereka memilih untuk menanggalkan cadarnya. Itu artinya, mereka hanya wajib menggunakan cadar di negaranya. Ketika melancong ke negara lain, di antara mereka memilih untuk tidak menggunakan cadar.
 
Dengan demikian, kewajiban menggunakan cadar di Arab Saudi sebenarnya terkait dengan kebiasaan yang berlaku bagi mereka. Kebiasaan yang berlangsung di Arab Saudi tidak bisa diberlakukan juga di negeri ini. Toh, di antara mereka memilih untuk menanggalkan cadar jika berada di luar Arab Saudi. Di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia, saya kerap berjumpa dengan perempuan-perempuan Arab Saudi yang tidak menggunakan cadar. Saya juga meyakini bahwa mereka tahu cadar hanya kebiasaan masyarakat setempat.
 
Nah, polemik soal cadar yang muncul belakangan ini sejatinya dapat membukakan kita bahwa memakai cadar bukan sebuah kewajiban dalam Islam. Cadar hanya sekadar kebiasaan masyarakat tertentu, dan kebetulan kita tidak mempunyai kebiasaan tersebut.
 
Apalagi di lingkungan pendidikan diperlukan interaksi, komunikasi, dan dialog antara guru dan murid, dosen dan mahasiswa, maka pada titik inilah proses pendidikan dapat terganggu karena cadar dapat menghambat proses pengenalan dan interaksi di dalam dunia pendidikan. Karenanya, Universitas al-Azhar Mesir yang sangat dihormati di dunia Islam sebagai salah satu pusat pendidikan Islam juga melarang para mahasiswinya menggunakan cadar selama berada di lingkungan pendidikan.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID
 
(SBH)