Antara Spiritual dan Istithaah Kesehatan

   •    Selasa, 08 Aug 2017 12:25 WIB
haji 2017
Antara Spiritual dan <i>Istithaah</i> Kesehatan
ILUSTRASI: Thawaf (mengelilingi Ka'bah tujuh putaran) di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi. (ANTARA/Prasetyo Utomo)

Saikhu Baghowi, Jurnalis

Berhaji memang menjadi dambaan setiap muslim. Di samping bagian dari rukun Islam kelima, Haji memiliki nilai spiritual benuk penyerahan diri seorang hamba kepada sang Khalik, Allah Swt. Padang Arafah ibarat padang Mashar di akhirat kelak. Maka wukuf dengan.menggunakan baju ihram adalah bentuk kehambaan dengan menanggalkan duniawi. Seorang muslim datang sebagai tamu Allah, sungguh penghargaan.luar biasa.

Kalimat "tamu Allah" maka Allah akan menjamu dalam bentuk pengampunan atas dosa yang telah dilakukan seorang hamba selama hidupnya. Pintu maghfirullah terbuka di Padang Arafah.

Arafah dalam sejarah Islam menyebutkan sebagai tempat ketika Nabi Ibrahim menerima perintah Allah untuk menyembelih anaknya, nabi Ismail. ini adalah simbol ketataan apapun yang Allah perintahkan kepada.muslim.

Arafah juga memiliki makna pertaubatan ketika Nabi Adam dan Siti Hawa dipertemukan di Jabal Rahma, daerah Arafah, kemudian mereka memohon ampun atas dosa mereka saat tergelincir godaan setan saat di surga.

Dalam Alquran disebutkan, "Keduanya berkata, Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS al-A'raf: 23).

Ya, makna kembali fitrah untuk kemudian tidak.mengulangi kesalahan yang sama, menjadi pintu seorang hamba menjalani kehidupan baru setelah bertaubat di Padang Arafah.

Dalam beberapa literatur Islam juga menyebutkan tentang keutamaan menjadi tamu Allah, karena Allah berfirman kepada para malaikat dengan membanggakan hambanya saat berwukuf.

Inilah momentum bagi umat Islam menghinakan diri dan.mengakui segala dosa, baik yang kecil.maupun yang besar, tanpa penghalang apapun saat memanjatkan pengampunan.

Di sisi lain haji, dalam Al quran surat Al Imron 97 juga mensyaratkan agar mereka yang datang ke Baitullah haruslah memiliki kemampuan, bukan hanya finansial, tapi juga fisik dan mental. Istilah Istithaah kesehatan dengan keluarnya Peraturan Menteri kesehatan no 15 tahun 2016 telah mengatur itu agar jamaah Indonesia yang berhaji memahami hal tersebut.

Namun, aspek spiritual yang ada saat berhaji membuat muslim Indonesia "abai" akan pentingnya istithaah. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang berniat ingin wafat di tanah haram.

Banyak doa yang dipanjatkan seseorang ketika berhaji agar bisa berhaji dan kembali ke tanah air dengan selamat. Tapi kita juga tidak pernah tahu ada niat seorang calon jamaah haji yang memang sakit dan ingin sahid di tanah haram. Bukankah Allah menjanjikan surga bagi mereka yang meninggal dalam keadaan sahid? apatah lagi meninggal di waktu yang baik, di tempat tanah suci.

Belum lagi kisah keajaiban yang terjadi saat mereka berhaji. Bagaimana susah berjalan saat di tanah air, namun atas ijin Allah mereka tegak.jalan.saat di tanah suci. Bagaimana penyakit.menghinggap, tiba-tiba lenyap saat di tanah haram.

Jalan istithaah dan pengembaraan spiritualitas seseorang sulit menemukan titik kompromi.

Nalar boleh membenarkan istithaah. Namun ada sebagian di antara.jamaah yang mengagungkan nilai spritualitas. Entah berniat sahid di.akhir hayatnya, atau berdoa ada keajaiban atas penyakit yang dideritanya.

Wallahu a'lam
 


(ADM)