BKP Kementan Pantau Pasokan dan Harga Pangan hingga Pelosok

Anggi Tondi Martaon    •    Jumat, 14 Dec 2018 08:02 WIB
berita kementan
BKP Kementan Pantau Pasokan dan Harga Pangan hingga Pelosok
Tim BKP Kementan memantau langsung proses produksi di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku (Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)

Seram: Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (BKP Kementan) memastikan pasokan komoditas pangan di Maluku aman terkendali. Namun, hal itu dirasa belum cukup. BKP memantau langsung proses produksi di lapangan.

Rombongan yang dipimpin Kepala Bidang Akses Pangan, Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan BKP Hasanudin Rumra bertolak menuju Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Agar bisa sampai tujuan, rombongan harus menempuh perjalanan darat dan laut selama tiga jam.

Hasanudin menyebutkan, tujuan kunjungan kali ini untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan di tingkat paling bawah. Hal itu perlu dilakukan sebagai bentuk antisipasi jika stok beras habis.

"Saat cadangan di Bulog habis, kita masih ada stok di penggilingan," kata Hasan, di sela kunjungan ke Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten SBB, Maluku, Kamis, 13 Desember 2018.

Perjalanan dimulai pada pukul 08.00 WIT dari Kota Ambon menuju Pelabuhan Terpadu Penyebrangan Hunimua. Tiba sekitar pukul 08.45 WIT, rombongan langsung melanjutkan perjalanan menggunakan kapal Feri menuju Pelabuhan Penyeberangan Waipirit.

Setibanya di Pelabuhan Penyeberangan Waiprit pukul 11.00 WIT, rombongan langsung melanjutkan perjalanan. Mereka tidak ingin kehilangan waktu agar tetap bisa kembali ke Kota Ambon pada sore hari.

Tujuan pertama yaitu meninjau tempat penggilingan padi. Dibimbing koordinator penyuluh pertanian Kecamatan Kairatu Adnan, rombongan diarahkan ke tempat penggilingan Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Bugo.

Di sana, rombongan BKP Kementan melihat langsung kondisi tempat penggilingan tersebut. Mereka juga menggali informasi terkait keberadaan stok dan distribusi hasil penggilingan.

Ketua Poktan Ngudi Bugo Langgeng menjelaskan, pihaknya selalu mendistribusikan beras hasil tempat penggilingannya ke Toko Tani Indonesia (TTI) yang ada di Kabupaten SBB. Pihaknya juga terkadang memenuhi permintaan dari daerah lain, seperti Ambon.

Langgeng juga menjelaskan, kemampuan penggilingan padi cukup tinggi. Setiap hari, usaha yang mendapatkan bantuan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM) itu mampu memproduksi beras hingga 4 ton per hari.

"Di sini jumlah anggota kelompoknya 27. Mereka bekerja 8 jam setiap hari. Tidak ada pemaksaan," kata pria yang berdarah Jawa itu.

Langgeng menjelaskan, dalam menjalankan usaha penggilingan, pihaknya mendapatkan bantuan PUPM setiap tahun dari Kementan. Bantuan pertama berjumlah Rp200 juta.

Sebanyak Rp140 juta khusus untuk pengadaan gabah. Selebihnya, untuk operasional. Setelah mendapatkan bantuan tersebut, Poktan diwajibkan menyuplai beras sebanyak 40 ton per tahun.

Langgeng menyebutkan, pihaknya tidak menemui kendala memenuhi target suplai tersebut. Bahkan, Poktan Ngudi Bugo mampu menyuplai beras di luar TTI. "Kita kadang-kadang juga menyuplai untuk Ambon," ucapnya.

Selain beras, Langgeng menyebutkan bahwa anggota Poktan Ngudi Bugo juga memproduksi tanaman hortikultura. Namun, jumlah lahan yang ditanami belum banyak.

"Karena kondisi pasar juga. Jadi kita tidak bisa menanam sampai berhektare-hektare. Umumnya, hortikultura diselipkan sedikit-sedikit di sekitar areal persawahan," ujar dia.


(Foto:Medcom.id/Anggi Tondi Martaon)


Potensi Hortikultura di SBB 

Potensi pertanian di Kabupaten SBB tidak hanya beras. Potensi hortikultura juga cukup tinggi.

"Di sini juga berpotensi memenuhi kebutuhan hortikultura. Misalnya, sayur berupa kacang panjang, cabai, jeruk (lemon China)," kata Kepala Bidang Akses Pangan, Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan BKP Hasanudin Rumra.

Hasan menyebutkan, beberapa produk hortikultura di SBB dipasok ke Ambon, yaitu lemon China. Pengiriman buah yang menyerupai jeruk nipis itu mencapai 7 ton setiap kali pengiriman ke Ambon.

"Setiap pengiriman mencapai 7 ton per hari. Mereka kumpulkan dari petani, kemudian dikirim," kata Hasan.

Dengan berbagai potensi tersebut, maka tak heran Hasan sangat meyakini kebutuhan pangan, khususnya di Provinsi Maluku dalam kondisi aman. "Kondisi pangan aman di sini," ujarnya.


(ROS)