Sulut Antisipasi Gerakan Radikal Berujung Terorisme

Mulyadi Pontororing    •    Selasa, 20 Jun 2017 16:49 WIB
radikalisme
Sulut Antisipasi Gerakan Radikal Berujung Terorisme
Ilustrasi penangkapan terorisme, Ant

Metrotvnews.com, Manado: Polda Sulawesi Utara terus mengantisipasi potensi dan ancaman teroisme dari luar maupun dalam negeri. Caranya dengan menjalankan penyuluhan dan deradikalisasi di kalangan masyarakat.

Kabid Humas Polda Sulut Kombes Ibrahim Tompo mengatakan tak menemukan gerakan terorisme di provinsi tersebut. Namun, potensi gerakan radikal berujung terorisme masih ada.

"Nah potensi ini yang kami antisipasi dengan program deradikalisme agar jangan sampai dimanfaatkan oknum-oknum yang ingin memecah belah bangsa. Pemahaman-pemahaman kebangsaan itu yang difokuskan," kata Ibrahim di Mapolda Sulut, Kota Manado, Selasa 20 Juni 2017.

Menurut Ibrahim, aparat tak sembarangan menindak oknum tersebut. Aparat harus mengikuti aturan dan regulasi undang-undang.

Sebelum penindakan, Ibrahim mengatakan kepolisian melaksanakan program deradikalisme. Agar, gerakan oknum tak meluas. Pengaruh dari ajaran tersebut pun tak memicu tindak kejahatan.

Kesalahpahaman umat beragama menjadi salah satu potensi. Ibrahim meskipun telah mengetahui telah ada potensi namun, aparat hukum tak bisa langsung menindak oknum-oknum tersebut.

"Regulasi undang-undang kita mengatur tindakan hukum nantinya kalau ada aksi kejahatan. Nah itulah gunanya antisipasi lewat program-program tadi untuk mencegah potensi tersebut jangan sampai meluas apalagi timbul tindakan kejahatan," terang Tompo.

Menurutnya, salah satu pemicu munculnya kelompok radikalisme dan teroris lantaran kesalahpahaman tentang arti agama.

"Bagi orang-orang yang kurang paham akan agama pasti akan berbuat seperti itu.  Padahal agama tak mengajarkan tindakan berbau kekerasan," tandasnya.

Menurut Ibrahim, radikalisme dan terorisme tak hanya menjadi ancaman Sulawesi Utara. Provinsi lain di Indonesia pun berpotensi mengalami hal serupa.

"Banyak oknum yang masih mempunyai ideologis keras. Ini yang membuat oknum terorisme mudah masuk untuk mencuci otak untuk melakukan tindakan-tindakan kejahatan," terangnya.

Dengan kata lain, lanjut Ibrahim, rarikalisme dan terorisme di Indonesia seperti masih tidur. Tinggal menunggu dibangunkan.

"Untuk mencegah jangan sampai hal itu bangun. Kita semua harus berperan untuk mencegah dengan memangkas habis ideologi-ideologi (yang bertentangan dengan agama dan negara)," pungkasnya.



(RRN)