Beda Malaria dan DBD

   •    Selasa, 18 Sep 2018 12:04 WIB
penyakitmalaria
Beda Malaria dan DBD
Ilustrasi. (Foto: MI/Ramdani)

Jakarta: Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menetapkan wabah malaria sebagai kejadian luar biasa (KLB) pasca-gempa. Sebanyak 137 orang pengungsi dinyatakan terjangkit malaria.

Dokter spesialis penyakit tropis dan infeksi Adityo Susilo mengatakan gejala umum yang ditunjukkan saat seseorang terjangkit malaria adalah demam mendadak yang diawali dengan tubuh menggigil.

"Menggigil, demam, setelahnya pasien mengalami penurunan demam dengan keringat yang banyak sekali atau dikenal dengan trias malaria; demam tinggi, menggigil, dan berkeringat," ujarnya melalui sambungan telepon dalam Newsline Metro TV, Senin, 17 September 2018.

Adityo mengatakan ada perbedaan siginifikan antara malaria dan demam berdarah dengue (DBD), terutama dari pola demamnya. Demam dari DBD umumnya sangat menonjol dan cenderung menetap selama 2-4 hari dan memasuki fase kritis pada hari keempat atau kelima saat demam mulai membaik.

"Antisipasinya adalah pencegahan gigitan, anjurannya seperti itu karena untuk pengobatan memang bisa membantu tetapi tidak bisa mengalahkan pencegahan gigitan," kata dia.

Pencegahan gigitan menurut Adityo bisa dilakukan dengan penggunaan losion antinyamuk atau kelambu berinsektisida. Sedangkan untuk pengobatan, khusus di Indonesia dianjurkan dengan pemberian doksisiklin atau antibiotik yang digunakan untuk jenis infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau protozoa.

Namun, obat-obatan seperti doksisiklin dianjurkan hanya diberikan kepada pendatang, misalnya orang-orang yang datang dari wilayah non-endemis ke wilayah endemis malaria. Pemberian obat bisa dilakukan sejak dua hari sebelum keberangkatan dan dilanjutkan sampai empat minggu setelah kembali.

"Untuk orang yang menetap (seperti di pengungsian di Lombok) tidak ada obat yang dianjurkan, tetap pencegahannya dari gigitan. Apabila ada gejala segera dievaluasi dan diobati saat ternyata ditemukan," ungkapnya.

Khusus bagi ibu hamil penanganan akibat terjangkit malaria sedikit berbeda. Pada prinsipnya pengobatan malaria harus dibedakan terlebih dulu dari jenisnya apakah malaria yang menginfeksi berjenis vivax atau falciparum. 

Membedakan jenis malaria, tambah dia, bisa dilakukan melalui metode mikroskopis atau deteksi cepat dengan mengevaluasi antigen.

"Ini penting karena perbedaan jenis malaria akan menentukan pilihan dan metode pengobatan. Dibuktikan dengan hasil pemeriksaan laboratorium jenis malaria dan parasitnya apa baru menetapkan metode pengobatan," jelas dia.




(MEL)