Puluhan Ribu Obat PCC Ditemukan di Makassar

Andi Aan Pranata    •    Sabtu, 16 Sep 2017 14:43 WIB
obat berbahaya
Puluhan Ribu Obat PCC Ditemukan di Makassar
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar menyita 29 ribu butir obat jenis PCC (paracetamol caffein carisoprodol) dari sebuah distributor obat di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat 15 September 2017. Foto: MTVN/Andi Aan Pranata

Metrotvnews.com, Makassar: Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Makassar menyita 29 ribu butir obat jenis PCC (paracetamol caffein carisoprodol) dari sebuah distributor obat di Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat 15 September 2017. Obat berbahaya ini sama dengan obat yang memakan puluhan korban di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Obat PCC tersebut keberadaannya terungkap dari hasil pengawasan rutin petugas. Lokasi penemuan barang diketahui sebagai salah satu pedagang besar farmasi (PBF) milik pria berinisial SS yang terdaftar resmi di Kementerian Kesehatan.

(Klik: BBPOM Jabar Pastikan PCC Diproduksi Pabrik Ilegal)

"Kami sayangkan karena PBF ini sarana resmi distributor obat," kata Kepala BBPOM Makassar Muhammad Guntur mengungkapkan, pada konferensi pers di Makassar, Sabtu 16 September 2017.

Guntur mengungkapkan, BPOM sejak satu bulan lalu telah menelusuri praktik peredaran obat PCC di Makassar. Berdasarkan laporan masyarakat, lima distributor obat dipantau. Dari lima lokasi, satu di antaranya kedapatan menyimpan obat terlarang itu.

"Obat dikemas dalam 29 kemasan. Setiap kemasan berisi seribu butir pil," ujar Guntur.

(Baca: Pengedar PCC Harus Dikenai Pasal Berlapis)

Guntur memastikan pil PCC yang disita sebagai obat terlarang. Obat jenis itu dinyatakan ilegal sejak 2013.

Sebelumnya, obat ini dianggap bermanfaat sebagai analgetik dan depresan. Namun, akhirnya dilarang karena banyak disalahgunakan sehingga banyak memakan korban.

BBPOM Makassar langsung berkoordinasi dengan Polda Sulawesi Selatan untuk menjerat sang pemilik. BBPOM mengaku hanya bisa mengusulkan kepada Kementerian Kesehatan untuk mencabut izin distribusi obat perusahaan pemilik.

"Kami usulkan penutupan. Tapi tetap pemiliknya kita panggil, termasuk penasehat teknis untuk dimintai keterangan. Karena sudah ada bukti produk ilegal," Guntur melanjutkan.

 


(SUR)