Lantamal Sita 57 Kontainer Kayu Ilegal Asal Papua

Lina Herlina    •    Selasa, 08 Jan 2019 15:39 WIB
ilegal logging
Lantamal Sita 57 Kontainer Kayu Ilegal Asal Papua
ilustrasi Medcom.id

Makassar: Petugas Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) VI dan tim gabungan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menangkap kapal sebuah kapal yang mengangkut 57 kontainer kayu ilegal asal papua, di Pelabuhan Sukarno Hatta Makassar, Selasa 8 Januari 2018. Kapal bermuatan kayu itu ditangkap dalam pelayaran menuju Surabaya, Jawa Timur.

Penyelundupan kayu ilegal itu terungkap berkat kerja sama aparat gabungan. Kapal beserta barang bukti saat ini bersandar di pelabuhan peti kemas Sukarno-Hatta.

"Kayu berjenis merbau ini diperkirakan lebih dari 914 meter kubik dengan nilai diperkirakan minimal Rp16,5 miliar,"kata Komandan Lantamal VI Laksamana Pertama TNI Dwi Sulaksono, kepada wartawan di Makassar, Selasa Januari 2019. 

Menurut Dwi, kapal pengangkut kayu ilegal terdeteksi berdasarkan hasil analisis dan laporan operasi intelijen sejak Desember 2018. Laporan diperkuat informasi dari instansi terkait di bidang lingkungan.

Tim mendeteksi indikasi pengangkutan kayu secara ilegal dari Pelabuhan Jayapura dengan tujuan Pelabuhan Surabaya. Di Pelabuhan Makassar, petugas menggelar pengecekan dan melihat fisik kayu. Setelah dipastikan ilegal, barang bukti langsung disita untuk kepentingan penyelidikan.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan, pengungkapan kayu ilegal merupakan hasil pengembangan operasi sebelumnya di Surabaya, Jawa Timur. Pada 5 Desember 2018, tim gabungan juga menyita barang bukti kayu serupa yang dikirim dari Papua.

Menurutnya, barang bukti bernilai mahal karena merupakan kayu jenis merbau yang masuk daftar kelas satu. Dia berharap pengungkapan ini sebagai awal untuk memberantas maraknya pembalakan liar. Hanya saja, aparat belum menetapkan tersangka dalam kasus penyelundupan kayu ilegal. Investigasi petugas masih berjalan, untuk menyelidiki orang-orang yang terlibat. Termasuk pemilik kayu.

Untuk kayu di Makassar, beberapa orang sudah dimintai keterangannya. Adapun kasus sebelumnya di Surabaya, Rasio menyebut dua orang beserta koorporasi telah ditetapkan jadi tersangka. 



(ALB)