Jumlah Tenaga Kesehatan di Daerah Tertinggal Ditambah

Sri Yanti Nainggolan    •    Jumat, 12 Jan 2018 15:47 WIB
kesehatan
Jumlah Tenaga Kesehatan di Daerah Tertinggal Ditambah
Ilustrasi. MTVN/M Rizal

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menambah sumber daya manusia (SDM) kesehatan untuk daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) pada 2018. Salah satunya penempatan tenaga kesehatan untuk program Nusantara Sehat (NS) Individu yang ditambah hingga dua kali lipat.

Tahun lalu, Kemenkes mengirimkan 1.663 tenaga kesehatan untuk program Nusantara Sehat Individu. "Akan ditambah menjadi 3.835 orang di tahun ini," kata Kepala Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan Kemenkes Usman Sumantri saat dihubungi Medcom.id pada Kamis, 11 Januari 2018.

Program lain yang akan ditambah, yaitu Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) yang berjumlah 870 tenaga kesehatan. Program WKDS yang semula ada lima spesialisasi, akan ditambahkan menjadi tujuh spesialisasi.

Spesialisasi radiologi dan patologi klinik akan dimasukkan ke dalam program. "Kebutuhan dua spesialisasi ini sangat tinggi. Misalnya, untuk penyakit dalam akan lebih sempurna bila ada radiologi, untuk menangani patah tulang yang membutuhkan keperluan untuk rontgen," terang Usman.

Selain itu, daerah yang dijangkau juga tak hanya pada daerah tertinggal saja. Daerah dengan kemampuan fiskal rendah juga akan mendapat intervensi dari program-program tersebut karena jumlah peserta sendiri semakin banyak di 2018.

Sebanyak 6.316 tenaga kesehatan secara serempak ke seluruh Indonesia melalui beberapa program pada 2017. Ribuan tenaga kesehatan ini dibagi untuk Nusantara Sehat (NS) Berbasis Tim sebanyak 2.486 orang, Nusantara Sehat Individu (1.663 orang), Wajib Kerja Dokter Spesialis (870 orang) dan Penugasan Khusus Residen (1.297 orang).

Usman juga mengatakan keempat program ini memberikan banyak manfaat, baik bagi peserta maupun warga daerah yang menjadi sasaran program. "Para peserta memgalami perubahan kultur kerja setelah ditempatkan di daerah. Mereka yang bekerja di Puskesmas menjadi terpacu untuk kerja lebih bagus," ungkap Usman.

Para peserta memang dituntut untuk lebih aktif pada masyarakat di mana mereka tak hanya berada di Puskesmas, namun juga mendatangi warga daerah untuk lebih sadar akan pentingnya kesehatan.

"Karena ke depannya ini akan menjadi pola pendekatan kita, di mana pegawai Puskesmas tak boleh lagi hanya diam, mereka harus menjadi bagian dari keluarga," tutup Usman.


(SUR)