BPOM Kalteng Instruksikan Tarik Produk Mengandung Babi

Antara    •    Kamis, 01 Feb 2018 16:55 WIB
izin edar obat
BPOM Kalteng Instruksikan Tarik Produk Mengandung Babi
Ilustrasi Obat Halal/Antara/Andika Wahyu

Palangka Raya: Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Kalimantan Tengah menginstruksikan distributor dan penjual menarik produk dan menghentikan penjualan dua merek suplemen yang positif mengandung DNA babi. 

"Sesuai instruksi Balai POM Pusat terkait dua merek suplemen yang positif mengandung babi, maka kami minta produsen menarik produk dan menghentikan penjualan," kata Kepala BPOM Kalteng Trikoranti Mustikawati, di Palangka Raya, Kamis, 1 Februari 2018.

Dua suplemen tersebut antara lain Viostin DS produksi PT Pharos Indonesia dengan Nomor Izin Edar (NIE) POM SD.051523771 berkode produksi (bets) BNC6K994H. Dan Enzyplex tablet produksi PT Medifarma Laboratories dengan nomor izin edar DBL7214704016A1 dengan kode produksi (bets) 16185101.

"Untuk Viostin DS dan Enzyplex tablet dengan izin edar di luar itu masih bisa beredar," tambahnya.

Baca: Baca: YLKI Minta BPOM Tegas kepada PT Pharos

Dia menambahkan, kode produksi kedua merek suplemen tersebut bisa diketahui pada bungkus produk. Dia mengimbau masyarakat memperhatikan kode produksi saat membeli kedua suplemen tersebut. 

"Jika kode produksinya sama, silakan dikembalikan kepada pedagangnya. Untuk produk legal yang mengandung babi biasanya pada kemasan dicantumkan gambar babi dan ditulis pula mengandung babi," imbuhnya.

Badan POM RI menyatakan produk Viostin DS dan Enzyplex berkode tertentu, mengandung DNA babi. PT Pharos Indonesia serta PT Medifarma Laboratories sebagai pembuat produk diminta menghentikan produksi dan distribusinya. Masyarakat juga diimbau tidak resah.

Jika memerlukan informasi lebih lanjut masyarakat dapat menghubungi pusat layanan HALO BPOM di nomor 1-500-533, SMS 081219999533, email halobpom@pom.go.id, atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

Baca: PT Pharos Hentikan Produksi Viostin DS


(LDS)