Eretan Masih Digemari Warga Tangerang

Farhan Dwitama    •    Senin, 17 Apr 2017 13:27 WIB
perahu
Eretan Masih Digemari Warga Tangerang
retan Perahu Penyebrangan Sederhana yang menghubungkan warga Kecamatan Neglasari di Kota Tangerang dengan warga Kecamatan Sepatan di Kabupaten Tangerang, Senin 17 April 2017.

Metrotvnews.com, Tangerang: Sejumlah warga Tangerang masih menggemari penggunaan kapal penyebrangan sederhana atau biasa disebut eretan. Perahu eretan yang membelah sungai Cisadane antara Kecamatan Neglasari dengan Kecamatan Sepatan dinilai membantu aktivitas warga. 

Insan, warga Kampung Bayur, Pintu Seribu, Kecamatan Priuk, Kota Tangerang, mengaku sering menggunakan perahu kayu itu. Meski kondisi kapal seadaanya, Insan meyakini eretan cukup aman untuk ditumpangi bersama-sama. 

"Waswas pasti ada, makanya lihat situasi kalau air sedang tinggi atau muatan penuh saya tunggu sepi dulu," kata Insan, ditemui di lokasi, Senin, 17 April 2017.

Pengguna jasa lainnya, Risti, 34, mengaku rutin menggunakan jasa eretan siang dan malam hari. Statusnya sebagai pekerja di sekitar wilayah Bandara Soekarno Hatta mau tak mau mengharuskan dirinya menyebrang menggunakan eretan untuk menghemat waktu. 

"Kalau harus lewat jalan raya lama karena muter-muter. Pakai eretan jadi lebih cepat karena motong jalan," kata dia. 



Moda transportasi itu bisa dibilang jauh dari kata aman. Bagaimana tidak, eretan merupakan perahu sederhana yang terbuat dari kayu balok dengan papan triplek sebagai alas. Atapnya menggunakan plastik terpal agar terlindungi dari matahari. 

Joni, salah satu pekerja eretan mengaku, perahu dapat mengangkut 30 motor sekali menyebarang. Dalam operasinya, eretan ditarik menggunakan tambang besi.

"Jika boncengan Rp3 ribu," ucap Joni.

Untuk menarik eretan dibutuhkan 6 orang. Tugasnya bermacam-macam, ada yang bertugas menarik tali, mendorong kapal dengan bambu, dan menyiapkan papan untuk pejalan kaki maupun sepeda motor yang menyebrang. 

Upah yang dia terima pun tak menentu, namun normalnya Joni bisa meraup upah hanya Rp50 ribu per shift. Setiap harinya, satu eretan bisa mempekerjakan 18 pekerja yang dibagi ke dalam tiga shift. Pagi, siang dan petang. 

"Diatur 3 kali shift karena biar warga kebagian kerja semua, paling Rp50 ribu sehari, tapi kalau Minggu sepi paling-paling hanya Rp30 ribu," kata dia.


(ALB)