Puluhan Warga Gagal Umrah karena Tiket Palsu

Andi Aan Pranata    •    Rabu, 13 Sep 2017 15:03 WIB
penipuan
Puluhan Warga Gagal Umrah karena Tiket Palsu
Gelar perkara kasus perjalanan umrah fiktif di Polda Sulsel, MTVN - Andi Aan

Metrotvnews.com, Makassar: Polda Sulawesi Selatan menahan dua warga terkait dugaan penipuan berkedok perjalanan umrah. Sebanyak 76 warga gagal berangkat umrah karena mereka mengantongi tiket palsu.

Tersangka masing-masing bernama M Arsad dan Haryadi, yang mengaku sebagai Direktur dan Komisaris PT Arca Perkasa Makassar atau Arca Travel. Dalam praktiknya, mereka menjalin kerja sama dengan perusahaan lain sebagai pencari jemaah namun belakangan tidak kunjung diberangkatkan.

“Kedua tersangka ini seolah-olah punya perusahaan travel umrah, tapi sebenarnya tidak ada atau bodong,” kata Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani pada konferensi pers di Makassar, Rabu 13 September 2017.

Dicky mengungkapkan, aktivitas perusahaan fiktif ini dilaporkan seorang bernama Heni Katily. Pada tahun 2014 yang bersangkutan bekerja sama dengan kedua tersangka dan ditugasi menjaring jemaah umrah.

Hingga Mei 2014, secara bertahap Heni kemudian menyerahkan uang senilai Rp1,08 miliar kepada tersangka. Uang tersebut merupakan setoran dari 76 calon peserta umrah yang berhasil dijaring, dan dijanjikan berangkat ke Tanah Suci pada Mei tahun 2015. Namun hingga tiba waktunya, jemaah tidak kunjung diberangkatkan.

“Karena terus didesak, tersangka kemudian menyerahkan 76 e-tiket penerbangan kepada para jemaah. Namun ternyata tiket tersebut palsu sehingga jemaah batal berangkat,” ujar Dicky.

Tidak berhenti di situ, jemaah tetap mendesak pemberangkatan umrah. Tersangka kemudian mengembalikan uang untuk 31 orang calon peserta, sedangkan 45 lainnya dijanjikan tetap berangkat. Namun hingga tenggat pada Desember 2015, impian umrah tidak terwujud.

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal 378 dan 372 KUHP tentang penipuan, dengan ancaman hukuman maksimal 4 tahun penjara. Penyidik juga masih mengembangkan kasus ini, dengan mencari kemungkinan adanya korban lain.

“Selain menahan tersangka, kita menyita sejumlah alat bukti yang terdiri dari bukti setoran umrah, tiket palsu, dan daftar jemaah,” Dicky melanjutkan.

Terpisah, tersangka M Arsad mengungkapkan perusahaanya memang tidak memiliki izin umrah. Selama ini pihaknya menjaring  jemaah untuk diikutkan pada travel lain. Namun belakangan, perusahaannya labil yang berdampak pada goyahnya keuangan.

“Selama ini uang jemaah umrah disubsidi silang untuk memberangkatkan yang mendaftar duluan. Tapi waktu perusahaan goyang, jemaah terdahuku tidak bisa lagi diberangkatkan,” katanya.



(RRN)