Spesial Hari Kartini

Faradila, 'Pejuang' Hak Pendidikan di Manado

Mulyadi Pontororing    •    Kamis, 26 Apr 2018 16:47 WIB
Hari Kartini
Faradila, 'Pejuang' Hak Pendidikan di Manado
Faradila Bachmid (tengah) berpose dengan anak-anak didiknya di Yayasan PKBM Sam Ratulangi Manado, Medcom.id - Mulyadi

Manado: Semua warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang sama, tua atau muda, kaya atau miskin, normal maupun berkebutuhan khusus. Semua punya hak tanpa ada perbedaan. Pemikiran itu yang menginspirasi Faradila Bachmid mendirikan sekolah gratis untuk anak-anak kurang mampu di Sulawesi Utara. Bahkan di usia yang masih berusia belasan tahun, Faradila sukses menggugah perhatian Harley Mangundaan, Wakil Wali Kota Manado periode 2010-2015, untuk memberikan pendidikan gratis pada anak-anak putus sekolah.

Saat ini, usia Faradila masih 27 tahun. Namun, pemikirannya sudah dewasa bak pejuang pendidikan di masa lampau. Bagi penyandang gelar sarjana psikologi klinis itu, anak-anak kurang mampu berhak mendapatkan pendidikan secara gratis.

Sembilan tahun lalu, Faradila bercerita ia bertemu dengan seorang anak yang sedang berjualan keripik di Pasar Paal II Manado, Sulut. Faradila masih ingat betul nama bocah tersebut, yaitu Arif.

"Dalam benak saya bertanya mengapa anak yang masih usia sekolah bukannya bersekolah, malah berjualan di pasar," kisah Faradila saat ditemui Medcom.id di ruang kerjanya di Yayasan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sam Ratulangi, Manado, baru-baru ini.

Faradila mendekati bocah itu. Ia lalu menyampaikan pertanyaan pada benaknya itu pada Arif. Jawaban Arif mengejutkan.

"Buat apa sekolah. Sekolah mahal. Lebih baik cari uang," tutur Faradila seperti yang disampaikan Arif waktu itu.

Pengalaman serupa pun terjadi beberapa pekan kemudian. Saat hendak naik bus, ia menemukan seorang bocah perempuan bernama Rahmi berjualan kantong keresek. Rahmi mengaku berhenti sekolah karena orangtuanya tak mampu membayar biaya pendidikan.

“Anak itu bilang, sedangkan untuk uang makan saja sangat susah apalagi untuk sekolah. Saya merasa miris. Seperti tidak ada keadilan di sini. Masa saya bisa menikmati pendidikan dan bersenang-senang bersama teman-teman di sekolah, sementara anak-anak di pasar tidak mendapatkan pendidikan. Ini tidak adil,” lanjut perempuan alumnus Universitas Mercu Buana Yogyakarta itu.

Dila, demikian ia biasa disapa, miris dengan kondisi itu. Ia lalu mendatangi pasar untuk menemukan anak-anak putus sekolah. Keprihatinan muncul karena banyak anak yang ternyata buta aksara. Menurut Dila, kondisi itu tak selaras dengan program Manado Cerdas. 


(Faradila Bachmid, Pejuang Literasi di Manado, Medcom.id - Mulyadi)

Dila pun meminta izin orangtuanya untuk mendirikan sekolah gratis. Ia mengajukan peminjaman ruangan ke PD Pasar Paal II sebagai tempat belajar anak-anak.

“Namun saat itu tak diberi izin. Mungkin karena bahasanya pinjam jadi tak diizinkan,” ungkap Dila yang mengaku saat itu ia masih duduk di bangku kelas XII SMA.

Dila tak patah arang. Usahanya berbuah manis. Seseorang mendatangi Dila. Ternyata, orang itu adalah pegawai PD Pasar Paal II. Sang bapak menawarkan bantuan untuk menemukan lokasi belajar.

"Ternyata anaknya juga putus sekolah," kenang Dila.

Semburat kegembiraan pun tampak pada senyum Dila. Ia lalu mengumpulkan anak-anak di pasar untuk sekolah. 

Sedikitnya 20 anak pun bersedia diajar Dila. Waktu itu, lanjut Dila, ia tengah menyiapkan diri untuk mengikuti ujian nasional. Jadi sambil belajar, ia juga mengajar.

Dila tak puas. Ia kembali menemui pegawai PD Pasar Paal untuk meminjam ruangan sebagai sekolah. Pihak pasar kemudian mengarahkannya untuk menemui Wakil Wali Kota Manado saat itu, Harley Mangundaan.

Harley lalu menginstruksikan PD Pasar Paal menindaklanjuti permohonan saya. Ruang untuk sekolah gratis pun didapat Dila.

Tak terbayangkan betapa senangnya Dila. Ia lalu mendatangi ruang baru di lantai tiga pasar. Saat datang, ruangan kotor. Banyak barang tak terpakai. Dila mendapat bantuan dari keluarga dan anak-anak muridnya untuk membersihkan ruangan.

Pada 2010, Dila meresmikan buah kerja kerasnya itu dengan mengusung Yayasan PKBM Sam Ratulangi. Tak hanya baca tulis dan menghitung, yayasan juga menjadi penebar motivasi pada murid-muridnya.

"Misalnya sekarang mereka berjualan tas keresek. Nantinya, mereka harus jadi pemilik pabrik kantong keresek. Sekarang masih kondektur, nantinya, mereka harus punya bus sendiri," ujar Dila.

Waktu itu Dila sudah memiliki 70 siswa. Bukan hanya anak-anak, muridnya juga ada yang sudah berusia setengah abad. Kegiatan belajar mengajar berlangsung setiap hari.

Empat tahun di usia yayasan, PKBM Sam Ratulangi dilirik pemerintah. Semula, ia menjalankan yayasan dari kocek pribadi. Tapi pada 2014, PKBM Sam Ratulangu mendapat bantuan operasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Saat ini, PKBM Sam Ratulangi  sudah dipindahkan di kediaman Dila, di Kampung Merdeka, Kota Manado. Pemindahan sekolah itu sudah sejak tahun 2014 silam. PKBM Sam Ratulangi saat ini juga hanya dikhususkan untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Murid-muridnya berasal dari keluarga tak mampu di sekitar rumah Dila.

“Di tempat lama (Pasar Paal II) kami berhasil meluluskan sekitar 300 murid. Dari hasil survei kami, setidaknya dari angka 100 persen sekrang tinggal 20 persen saja anak-anak yang masih belum mendapat pendidikan yang layak di sana. Tapi beruntun warga di sekitar pasar mulai tergerak hatinya dan mereka yang mempunyai kemampuan finansial bahkan membuka PAUD gratis di sana,” ungkap Dila.

Pahlawan Literasi pantas disematkan pada nama Dila. Bukan hanya mendirikan yayasan, Dila juga mendirikan Kampung Literasi dan Perkumpulan Literasi Sulut. Komunitas itu menghimpun pegiat-pegiat literasi di Sulut.

"Tujuan komunitas ini untuk membangkitkan gairah masyarakat membaca buku," ujar Dila.

Pada 2017, Dila mendapat penghargaan sebagai penerima Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU) Awards. Penghargaan itu diberikan kepada anak-anak muda yang peduli dengan pendidikan.


(RRN)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

4 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA