Prime Talk

Komponen Buruh di Pelabuhan Akal-akalan Pungli

   •    Selasa, 21 Mar 2017 10:57 WIB
pungli
Komponen Buruh di Pelabuhan Akal-akalan Pungli
Petugas tengah menjaga proses bongkar muat di pelabuhan. (Foto: ANTARA/Didik Suhartono)

Metrotvnews.com, Jakarta: Praktik pungutan liar di terminal peti kemas Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur, diduga sudah berlangsung lama. Salah satu modus untuk menarik pungutan adalah memanfaatkan tenaga buruh agar retribusi liar masuk ke kantong-kantong pengelola pelabuhan.

Kepala Humas Tim Saber Pungli Polri Brigjen Rikwanto mengatakan, mestinya tenaga buruh tidak lagi diperlukan. Sebab, proses bongkar muat di pelabuhan sudah menggunakan mesin.

"Seharusnya komponen buruh itu sudah hilang atau berkurang karena sudah mekanik. Akhirnya ada biaya lebih yang seharusnya tidak dibayarkan jadi dibayar, sehingga high cost," katanya, dalam Prime Talk, Senin 20 Maret 2017.

Rikwanto menyebut penarikan retribusi itu ada di dua titik di pelabuhan, pintu masuk dan saat proses bongkar muat. Pungutan liar di pintu masuk pelabuhan dilegalkan dengan adanya SK Wali Kota untuk parkir.

"Sebenarnya tidak ada parkir di situ, jadi langsung masuk siap bongkar muat lalu jalan. SK dimodifikasi seolah ada retribusi," katanya.

Penarikan retribusi itu, kata dia, dimulai sejak 2012 ketika SK Wali Kota turun. Pada 2012 penarikan retribusi hanya Rp10 ribu per bongkar muat. Namun seiring berjalannya waktu, pungli itu meningkat hingga Rp40 ribu.

Tak hanya di pintu masuk, koperasi Komura di dalam pelabuhan pun melakukan hal serupa. Prinsip no pay no service tidak lagi berjalan dengan dalih kesepakatan yang ternyata sepihak sehingga menimbulkan unsur pemerasan. 

"Karenanya Rp6,1 miliar itu kita urai dari mana, kenapa ada di situ, periode berapa dan kemana saja uangnya mengalir. Kita sudah dapatkan data awal dar DH sekretaris koperasi yang menggunakan uang itu tapi belum kelihatan siapa saja yang ikut menikmati dan mensponsori adanya pidana itu," jelas Rikwanto.

 


(MEL)