BNPB: 606 Sekolah di NTB dan Bali Rusak Akibat Gempa

ant    •    Minggu, 12 Aug 2018 18:59 WIB
Gempa Lombok
BNPB: 606 Sekolah di NTB dan Bali Rusak Akibat Gempa
Rumah warga di Desa Lempengi, Kecamatan Gangga, Lombok, ambruk setelah gempa mengguncang, Jumat, 10 Agustus 2018. Foto: Medcom.id/Whisnu

Jakarta: Sebanyak 606 sekolah di di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali rusak setelah diguncang gempa sebesar 7 skala richter (SR) pada 5 Agustus 2018. Kerusakan sekolah berbeda-beda dari ringan hingga berat.

"Ada 606 satuan pendidikan terdampak akibat gempa. Terdapat 3.051 ruang kelas rusak, 1.546 di antaranya rusak berat, 671 ruang kelas rusak sedang, dan 834 ruang kelas rusak ringan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu, 12 Agustus 2018.

Untuk menyelenggarakan sekolah darurat diperlukan 319 unit tenda namun baru 21 tenda sudah terpasang sehingga masih ada kekurangan tenda 298 unit tenda. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mendata dan mendistribusikan bantuan, kampanye kembali ke sekolah, bantuan sosial tanggap darurat untuk sekolah yang rusak dan menyusun rencana bantuan untuk memulihkan kerusakan dan belajar mengajar di NTB dan Bali. 

"Total rencana bantuan dari Kemendikbud sebesar Rp229,248 miliar," ujar Sutopo. 

Hingga H+7 bencana yaitu pada Minggu 12 Agustus tercatat 392 orang meninggal. Sebaran korban meninggal akibat gempa ada di Kabupaten Lombok Utara 339 orang, Lombok Barat 30 orang, Kota Mataram 9 orang, Lombok Timur 10 orang, Lombok Tengah 2 orang dan Kota Lombok 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan roboh saat gempa.

Korban luka-luka tercatat 1.353 orang, terdiri atas 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan. Korban luka-luka paling banyak terdapat di Lombok Utara sebanyak 640 orang.

"Sementara itu pengungsi sebanyak 387.067 orang yang tersebar di ribuan titik pengungsian. Sebaran dari pengungsi adalah di Kabupaten Lombok 198.846 orang, Lombok Barat 91.372 orang, Kota Mataram 20.343 orang, dan Lombok Timur 76.506 orang. Kerusakan fisik selain sekolah meliputi 67.875 unit rumah rusak, 6 jembatan, 3 rumah sakit, 10 puskesmas, 15 masjid, 50 unit musala dan 20 unit perkantoran.

"Pendataan dan verifikasi masih dilakukan petugas. Pendataan dan verifikasi rumah diprioritaskan agar terdata jumlah kerusakan rumah dengan nama pemilik dan alamat," tambah Sutopo.


(ALB)