PWI Sulsel Bentuk Tim Usut Dugaan Pengeroyokan Anggotanya

Andi Aan Pranata    •    Rabu, 19 Apr 2017 18:22 WIB
kekerasan terhadap wartawan
PWI Sulsel Bentuk Tim Usut Dugaan Pengeroyokan Anggotanya
Foto ilustrasi. (Metrotvnews.com/M Rizal)

Metrotvnews.com, Makassar: Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan mengecam pengeroyokan oleh oknum anggota TNI Angkatan Laut terhadap wartawan Salim Djati Mamma. 

"Kami mendesak pihak berwajib agar kasus dugaan kekerasan atau penganiayaan tersebut diproses secara hukum," kata Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan PWI Sulsel Faisal Palapa, melalui pernyataan sikap yang diterbitkan di Makassar, Sulsel, Rabu, 19 April 2017.

Dalam surat pernyataan yang berisikan lima poin, PWI Sulsel menyatakan telah membentuk tim advokasi sebagai upaya klarifikasi, verifikasi, dan upaya hukum untuk mendalami kasus ini. PWI juga menyiapkan pengacara  untuk mendampingi Salim.

"Kami juga mengimbau rekan-rekan jurnalis agar selalu mengedepankan profesionalisme dan etika yang baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya," Faisal melanjutkan.

Sebelumnya, Salim Djati Mamma mengaku dikeroyok oknum anggota TNI Angkatan Laut di jalan Satando Makassar, Sulsel, Selasa siang, 18 April 2017. Pemukulan diduga terkait kendaraan Salim yang diparkir pada area terlarang, di sekitar markas TNI AL. Akibat kejadian itu, dia mengalami sejumlah luka lecet di bagian dahi.

Wakil Ketua PWI Sulsel Dikeroyok hingga Pingsan


Usai kejadian, Salim dilarikan ke Rumah Sakit Akademis Jaury Makassar. Selain menderita luka, pakaian yang dikenakan juga robek. Dia pun mengaku sempat pingsan.

Adapun Komandan Pangkalaman Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) VI Laksamana Pertama (Laksma) Yusup telah membantah adanya pemukulan terhadap Salim.

"Belum dapat laporan soal itu. Kalau ada pemukulan itu mesti dibuktikan lewat visum. Tidak ada anggota berseragam yang memukul. Kalau pun terbukti, akan diberikan sanksi," kata Yusup.

Lebih lanjut, Yusup mengakui bahwa pada hari yang sama dilakukan penindakan sejumlah kendaraan di sekitar jalan Satando. Daerah tersebut disebut sebagai tempat larangan parkir. Selain masuk kawasan militer, parkir di bahu jalan juga mengambat akses masuk ke jalan tol.

"Petugas kami sudah mengingatkan agar dia memindahkan kendaraan. Tapi dia orang sipil, malah menakut-nakuti petugas. Mengaku kapten, mengaku wartawan, mengaku keluarga jenderal. Kami sudah ajak baik-baik dia ke sini, tapi malah menuding," ujar Yusup.


(SAN)