Natuna Lepas Status 'Daerah Termahal'

   •    Rabu, 06 Feb 2019 12:58 WIB
bbm satu harga
Natuna Lepas Status 'Daerah Termahal'
Ilustrasi Natuna. Foto: Antara/Widodo S Jusuf

Jakarta: Program BBM Satu Harga yang diterapkan di berbagai wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) di Indonesia berhasil menurunkan harga-harga berbagai kebutuhan pokok di wilayah tersebut. Salah satunya di Natuna, Kepulauan Riau. 

Wilayah ini sebelumnya dikenal sebagai wilayah termahal di tanah air. Sejak program tersebut digulirkan, sekarang harga-harga kebutuhan pokok jauh menurun. 

Pengamat ekonomi dari Universitas Sumatera Utara (USU) Wahyu Ario Pratomo membenarkan bahwa pelepasan status negatif itu merupakan dampak dari program BBM Satu Harga. Dalam hal ini, jelas wahyu, kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah seperti nelayan dan petani bisa terangkat. 

“Turunnya harga BBM meningkatkan aspek produksi masyarakat. Dengan peningkatan produksi, pendapatan juga meningkat sehingga kesejahteraan, terutama golongan menengah ke bawah, pun meningkat." 

"Dengan peningkatan kesejahteraan, konsumsi (terhadap barang atau jasa) naik sehingga kegiatan bisnis juga berkembang,” kata Wahyu melalui keterangan tertulis, Rabu, 6 Februari 2019.  

Meski begitu, lanjut dia, agar program ini lebih tepat sasaran, maka harus dibarengi dengan peningkatan pengawasan. “Program ini meningkatkan aspek produksi pada masyarakat sehingga mendorong kegiatan ekonomi. Tetapi karena aspek konsumsi (terhadap BBM) juga meningkat, maka pengawasan harus lebih diperketat,” kata dia.

Baca: BBM Satu Harga Diharap Ciptakan Pertumbuhan Berkualitas

Zulkarnain, karyawan BUMN yang ditugaskan di Natuna, merasakan dampak dari penurunan BBM ini. Awalnya dia khawatir saat ditugaskan pertama kali ke Natuna. "Karena Natuna terkenal akan harga-harga yang serbamahal,” kata Zulkarnain. 

Ternyata perkiraannya keliru. Zulkarnain mendapati harga-harga di sana sudah sama dengan daerah lain. “Kalau makan pakai ikan hanya Rp15 ribu. Kalau pakai ayam Rp20 ribu. Sewa indekos satu kamar dengan kamar mandi di dalam juga hanya Rp500 ribu. Masih standar,” kata dia.

Masyarakat memang banyak merasakan manfaat BBM Satu Harga. Marlon Siahaan, Desa Malakoni, Kecamatan Enggano, Bengkulu Utara merasa senang ketika program tersebut diberlakukan di wilayah mereka. 

Pasalnya, sebelum ini harga BBM sangat memberatkan. Premium misalnya, bisa mencapai Rp10 ribu per liter. Tetapi sekarang, Marlon dan warga lain hanya membayar Rp6.450 per liter. Artinya, sama dengan harga BBM di Pulau Jawa. 

“BBM Satu Harga membuat kami semakin ringan. Sebab, biaya transportasi selama ini memang sangat berat," ujarnya. 

Di Mentawai Sumatera Barat, warga juga senang atas progam BBM Satu Harga. Salah satunya, warga Siberut, Hendra Sirebere. Turunnya harga BBM, kata Hendra, membuat biaya hidup yang dikeluarkan jauh lebih ringan. 

Hal ini berbeda dengan sebelum program ini berjalan. Dulu, kata dia, beban BBM bisa mencapai Rp15 ribu per liter. Tentu saja sangat memberatkan karena juga berdampak pada harga kebutuhan pokok yang sangat tinggi.




(UWA)

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

KPK Periksa Eks Pejabat Kemendagri terkait KTP-el

2 weeks Ago

KPK memanggil Sekretaris Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan Kementerian Dalam Neg…

BERITA LAINNYA