Rumah Sakit Apung Harapan Korban Gempa di Lombok

Dheri Agriesta    •    Jumat, 10 Aug 2018 12:37 WIB
Gempa Lombok
Rumah Sakit Apung Harapan Korban Gempa di Lombok
KRI Soeharso bersandar di Pelabuhan Carik, Kayangan, Lombok Utara, Kamis, 9 Agustus 2018, Medcom.id - Dheri Agriesta

Lombok Utara: Kapal milik TNI Angkatan Laut (AL) berukuran 120 meter itu bersandar di Pelabuhan Carik, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Kapal yang berfungsi sebagai rumah sakit apung itu memberikan harapan buat korban luka-luka gempa Lombok Utara.

Fasilitas KRI dr Soeharso tak main-main. KRI Soeharso memiliki dua kamar rawat inap dengan kapasitas masing-masing kamar 20 pasien.

"Kita punya lima ruang operasi yang bisa digunakan secara bersamaan," kata Komandan KRI Soeharso Letkol Joko Setiyono saat mengajak Medcom.id berkeliling KRI Soeharso, Kamis, 9 Agustus 2018.


(Pasien dan keluarga sedang duduk di lantai tiga kapal usai mendapatkan penanganan dari petugas kesehatan KRI Soeharso, Kamis 9 Agustus 2018, Medcom.id - Dheri)

Ruangan rawat inap dibedakan berdasarkan kelamin. Ruangan ini berada di lantai dua kapal. Dua ruangan itu dipenuhi pasien korban gempa Lombok Utara. Luka yang mereka alami bermacam-macam, luka hingga patah tulang.

Bergerak ke lantai tiga, terlihat fasilitas seperti ruangan rontgen, apotek, laboratorium, ICU, ruangan dokter, dan ruangan operasi. Pada pojok kiri kapal, terdapat ruangan instalasi gawat darurat. 

Petugas kesehatan dari TNI Angkatan Laut terlihat sedang menangani seorang bocah yang menjadi korban gempa di ruang IGD. Bocah itu mengeluhkan luka memar di bagian kakinya.

Meski berada di lantai tiga, ruang IGD tak sulit dicapai. Di sebelah ruangan, terdapat sebuah lift yang bisa digunakan mengangkat pasien dari lantai dasar.

"Satu-satunya kapal perang yang punya lift," kata Joko berkelakar.

Kapal yang diresmikan sebagai rumah sakit apung pada 2004 ini memiliki dua helipad. Dua helipad itu bisa menampung dua helikopter super puma yang digunakan mengankut pasien gawat darurat.

Pelayanan kesehatan di Lombok Utara dijalankan seadanya setelah gempa berkekuatan 7,0 skala richter (SR) mengguncang pada Minggu, 5 Agustus 2018. Sebanyak sembilan puskesmas dan satu rumah sakit umum daerah tak bisa digunakan.


(Suasana ruang perawatan KRI Soeharso yang menampung warga Lombok yang terluka akibat gempa, Kamis 9 Agustus 2018, Medcom.id - Dheri)

Pelayanan kesehatan dilakukan di halaman puskesmas dan rumah sakit menggunakan tenda darurat dan peralatan seadanya. Jika korban gempa mengalami luka parah, puskesmas atau rumah sakit akan merujuk mereka ke rumah sakit di Mataram.

Perjalanan ke Mataram dari Kecamatan Tanjung, Lombok Utara, bisa memakan waktu satu sampai dua jam. Sementara, dari Kecamatan Kayangan atau Bayan perjalanan menuju Mataram bisa memakan waktu tiga jam. 

Waktu tempuh itu belum terhitung rintangan perjalan karena macet, titik bekas longsor yang belum bersih total, dan jalanan retak. Perhitungan ini juga yang membuat TNI AL mendaratkan KRI Soeharso di ujung utara Pulau Lombok, tepatnya di Pelabuhan Carik.

Joko yakin rumah sakit apung ini bisa membantu korban gempa. Lagipula, KRI Soeharso telah berpengalaman menangani korban gempa seperti peristiwa tsunami Aceh pada 2004.

"Saya rasa akan sangat membantu," kata Joko.

Kapal ini membawa sejumlah dokter spesial tulang dan bedah. Karena, berdasarkan pengalaman menangani gempa Aceh pada 2004 dan Padang pada 2009, korban lebih banyak mengalami patah tulang karena tertimpa reruntuhan.

Meski begitu, KRI Soeharso tak akan menolak sejumlah pasien dengan keluhan lain. Joko menjelaskan, tim kesehatan di lapangan akan menyeleksi korban yang menjadi prioritas untuk ditangani di KRI Soeharso.

"Tim kita sudah dibagi, tim yang di darat sudah screening, jadi misalkan pengobatan biasa itu dilakukan di darat," jelas Joko.

Joko bercerita, perintah siaga telah dikantongi KRI Soeharso sejak gempa berkekuatan 5 skala richter mengguncang Lombok Timur, dua minggu lalu. Namun, perintah berangkat baru turun setelah gempa berkekuatan 7,0 SR menerjang pada Minggu, 5 Agustus 2018.

Kapal bertolak dari Surabaya pada Senin, 6 Agustus 2018, siang. KRI Soeharso baru bersandar di Pelabuhan Carik, Kayangan, Lombok Utara, pada Selasa, 7 Agustus 2018, sore. 
 
Baru bersandar, KRI Soeharso langsung menangani pasien. Setidaknya delapan pasien ditangani dan masuk ruang perawatan kapal buatan Korea Selatan yang dibeli pada 2003 ini. 

"Kurang lebih sore pukul setengah lima bersandar, mereka (masyarakat) sudah tahu (keberadaan kapal), kami hari itu juga terima delapan pasien," jelas Komandan Satgas Kesehatan KRI Soeharso Kolonel dr Andi Abdullah.


(RRN)