Masyarakat Sulsel Diminta Tanggap Bahaya Difteri

Andi Aan Pranata    •    Rabu, 06 Dec 2017 17:03 WIB
klb difteri
Masyarakat Sulsel Diminta Tanggap Bahaya Difteri
Seorang anak mendapatkan suntikan Td (Tetanus-difteri) di SD Islam Terpadu Malang, Jawa Timur - ANT/Ari Bowo Sucipto

Makassar: Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan mengimbau masyarakat agar mewaspadai peningkatan kasus difteri di Indonesia. Peringatan menyusul laporan status kejadian luar biasa (KLB) difteri di sebelas provinsi selama Oktober - November 2017.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sulsel Nurul AR menjelaskan, difteri merupakan penyakit menular disebabkan kuman Corynebacterium Diptheriae dan menyerang faring, laring atau tonsil. Bakteri penyebab difteri mengeluarkan racun yang menyebabkan kelumpuhan susunan syaraf tepi dan pusat, serta gagal ginjal. Kematian dapat terjadi karena sumbatan jalan nafas, akibat lapisan tebal di tenggorokan.

"Difteri ditandai gejala berupa demam hingga 38 derajat celcius, munculnya pseudomembran di tenggorokan, sakit waktu menelan, serta leher 
membengkak seperti leher sapi akibat pembengkakan kelenjar getah 
bening di leher. Selain itu terjadi pula sesak nafas disertai suara mendengkur," kata Nurul kepada Medcom.id di Makassar, Rabu 6 Desember 2017.

Data Dinas Kesehatan menunjukkan terjadi 19 kasus difteri di Sulsel dalam tiga tahun terakhir.  Masing-masing 11 kasus di tahun 2015, 5 kasus di 2016, serta 8 kasus di antara Januari - November 2017. Penyakit ini paling banyak menyerang anak dengan kelompok usia 5-9 tahun. Setelah menjalani perawatan, semua penderita, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan negatif dari corynobacterium diftreriae.

Nurul mengatakan, difteri bisa diobati dengan pemberian antibiotima dan antitoxin Anti Difter Serum (ADS). Sebelum terkena, masyarakat bisa mencegah melalui imunisasi. Adapun maraknya kemunculan penyakit tersebut belakangan ini, diduga karena adanya kekosongan kekebalan kalangan penduduk karena tidak lengkap imunisasinya. 

"Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk Difteri," ujar Nurul.

Menyikapi peningkatan kasus difteri, masyarakat dianjurkan agar tanggap dini dengan diri dan lingkungan masing-masing. Menurut Nurul, setiap orang hendaknya memeriksa status imunisasi untuk mengetahui kelengkapan berdasarkan jadwal dan umur. Jika belum lengkap, agar segera dilengkapi. Penting juga bagi masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehari-hari.

"Kalau merasa ada gejala difteri, segera melaporkan dan berobat ke Puskesmas terdekat. Lalu jika ada pasien yang dirawat di ruang isolasi, tidak usah dikunjungi agar tidak tertular," Nurul melanjutkan.

Dinas Kesehatan Sulsel disebut telah berkoordinasi dengan dinas terkait di 24 kabupaten/kota. Bersama Puskesmas, petugas di masing-masing diminta segera menyelidiki penyebaran penyakit menular. Terlebih jika dicurigai terjadi KLB difteri. Bila dianggap perlu, diinstruksikan segera melalukan imunisasi terpadu terhadap populasi rentan. 

"Kita juga perlu meningkatkan cakupan imunisasi, termasuk imunisasi difteri, secara merata di seluruh wilayah dengan target di atas 90 persen penduduk," Nurul mengatakan.


(ALB)

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

8 minutes Ago

Pakar hukum pidana Asep Iwan Iriawan menerangkan bahwa drama apapun tak akan mengganggu proses …

BERITA LAINNYA