RSUD Kabupaten Tangerang Rawat 31 Pasien Difteri

Farhan Dwitama    •    Rabu, 06 Dec 2017 17:13 WIB
klb difteri
RSUD Kabupaten Tangerang Rawat 31 Pasien Difteri
Seorang siswi saat mendapat imunisasi Difteri Tetanus (DT) -- ANT/Saiful Bahri

Tangerang: Sebanyak tiga pasien difteri masih dalam perawatan intensif di RSUD Kabupaten Tangerang pada Rabu, 6 Desember 2017. Kondisi K,5; IK,10; dan O,21 saat ini berangsung-angsur membaik.

"Sejak 25 Agustus hingga hari ini, kami sudah menangani 31 pasien difteri. Hari ini masih tiga pasien kami tangani," kata Kepala Humas RSUD Kabupaten Tangerang Yudi.

Menurut Yudi, dari 31 pasien yang ditangani, dua di antaranya meninggal saat perawatan di RSUD Kabupaten Tangerang. "Yang meninggal anak R usia 6 tahun dan tuan R usia 70 tahun," jelasnya.

(Baca: 66 Persen Kasus KLB Difteri Tidak Diimunisasi)

RSUD Kabupaten Tangerang, lanjut Yudi, tidak saja merawat pasien difteri dari Kabupaten Tangerang. Tapi, juga ada beberapa dari wilayah lain, seperti Kota Depok, Kota Tangerang, Malimping, dan Kabupaten Lebak.

"Pasien adal Lebak baru pulang kemarin. Kita tangani juga yang dari Depok dan Kota Tangerang. Nona O ini dari Kota Tangerang," ujarnya.

Yudi menjelaskan, pasien difteri akan menjalani pengobatan dan perawatan di RSUD Kabupaten Tangerang sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang berlaku. Pasien akan menjalani 14 hari perawatan sampai hasil pemeriksaan SWAP (pemeriksaan liur dekat tenggorokan pasien dinyatakan negatif.

"Jadi, walaupun secara fisik sudah baik, sudah lebih enak, tapi kalau hasil SWAP belum negatif, pasien tidak kami izinkan keluar kamar isolasi," pungkas Yudi.

(Baca: Difteri Bisa Menyumbat Jalan Napas)

Sebagai informasi, difteri merupakan infeksi yang umumnya menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Di beberapa wilayah Indonesia, infeksi difteri mulai mewabah dan menjangkiti anak-anak maupun dewasa.

Gejala yang ditimbulkan pada anak maupun dewasa hampir sama; demam, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, hingga pilek. Namun, gejala ini harus dibedakan dengan penyakit amandel.

Jika gejala tersebut muncul maka penderita harus dibawa ke puskesmas atau dokter terdekat. Yang perlu diperhatikan adalah pastikan bahwa gejala yang timbul adalah difteri dengan pemeriksaan laboratorium agar penanganan yang diberikan maksimal.

Satu-satunya cara mencegah penularan difteri adalah dengan pemberian vaksin atau imunisasi. Sayangnya, sering kali ada pemahaman yang salah di masyarakat yang menyebut bahwa pemberian vaksin justru berbahaya bagi tubuh.

Selain karena anti-vaksin, umumnya masyarakat termakan hoaks yang disebarkan di media sosial bahwa pemberian vaksin dapat menimbulkan penyakit lain di kemudian hari.

 


(NIN)

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

5 minutes Ago

Pakar hukum pidana Asep Iwan Iriawan menerangkan bahwa drama apapun tak akan mengganggu proses …

BERITA LAINNYA