Dua Drone Diterbangkan di sekitar Gunung Agung

Raiza Andini    •    Rabu, 11 Oct 2017 20:36 WIB
erupsi gunung agung
Dua Drone Diterbangkan di sekitar Gunung Agung
Foto Drone 1 Tawon 1.8 dan Foto Drone 2 KOAK 3.0, MTVN - Raiza Andini

Metrotvnews.com, Karangasem: Komunitas drone KOAK dari PT Citra Boat Indonesia asal Cisauk, Tangerang, Banten, menerbangkan dua drone di sekitar Gunung Agung, Karangasem, Bali. Drone berjenis Tawon dan KOAK itu berfungsi memantau aktivitas gunung yang berstatus Awas tersebut.

Rabu siang 11 Oktober 2017, drone diterbangkan. Staf Madya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Kementerian ESDM Umar Rosadi menjelaskan hasil pantauan bakal menjadi instrumen untuk memetakan bencana geologi. Seperti arah aliran lahar.

Umar mengatakan pada kegempaan di Gunung Kelud 2014 sebelum erupsi dan Sinabung telah memakai drone ini untuk memantau aktivitas gunung. 

"Ini berhasil, tingkat keberhasilannya kita cukup puas dengan foto-foto dari drone itu cukup jelas. Untuk memetakan aliran lahar seperti apa apakah sungai-sunga di kaki gunung masih bisa mengaliri lahar atau tidak atau ke mana lahar itu akan pergi," jelas Umar di Tulamben, Karangasem.

Pihaknya menambahkan bahwa hasil foto-foto drone ini lebih baik dari citra satelit. Sebab, jarak drone yang dekat dengan tubuh Gunung Agung serta mampu memitigasi wilayah oemukiman sekitarnya aecara jelas.

"Kalau satelit kita lebih jauh dari permukaan buminya cuma bisa di-zoom tapi ini kan kita memetakannya di jarak 300 meter lebih detil dan jelas," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Komunitas KOAK Budi Suhairi memaparkan bahwa ada dua drone yang diterbangkan yakni Tawon 1.8 dan juga KOAK 3.0. Untuk drone tawon ini mampu terbang hingga dua jam dengan ketinggian mencapai 4000 meter dari permukaan laut. Sama dengan jenis Tawon, KOAK memiliki body pilot yang mampu mengangkat beban sebanyak 4Kg.

"Kalau yang KOAK terbang di atas kawah aja, berputar sebentar dan melihat lingkungan sekitar," ungkap Budi ketika berbincang dengan metrotvnews di lokasi, Tulamben, Karangasem. 

Dia memaparkan dua drone ini baru pertama kali diterbangkan di Gunung Agung. Pada masa percobaan drone tawon 1.8 ini gagal terbang karena tidak mendarat secara apik dan belum dapat memantau kawah gunung.

"Tadi dicoba pertama ternyata climbing gratenya kurang tinggi jadi kita mau ulang. Kita sudah sering pakai pesawat ini ya, tapi kontur gunungnya ini baru kita coba," tandasnya.

Drone tawon 1.8 terbuat dari stereofoam dan dirakit secara manual dengan menggunakan action cam bermerel xiaomi sedangkan untuk KOAK 3.0 sayap drone sepanjang 3000mm, dengan panjang 2000mm, kecepatan maksimum 100KM perjam, dan maksimum flight time selama empat jam.


(RRN)