Polda Sulsel Ungkap Peredaran Pupuk Oplosan

Andi Aan Pranata    •    Rabu, 19 Apr 2017 16:07 WIB
pupuk
Polda Sulsel Ungkap Peredaran Pupuk Oplosan
Pabrik pembuat pupuk oplosan di jalan Poros Limbung-Cambayya, kecamatan Pallangga digerebek polisi --Foto/Andi--

Metrotvnews.com, Gowa: Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan membongkar praktik peredaran pupuk oplosan, di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Dua orang ditangkap dan sekitar 4.000 kilogram pupuk opolosan disita kepolisian.

Wakil Kepala Polda Sulsel Brigjen Gatot Eddy Pramono mengatakan, dua pelaku berinisial SL dan MB  itu ditangkap di sebuah pabrik sekaligus toko di jalan Poros Limbung-Cambayya, kecamatan Pallangga. Mereka diduga sebagai produsen pupuk padat yang tidak sesuai komposisi dan mutu barang, serta tidak mengantongi izin edar dari Kementerian Pertanian.

"Penyidik telah menyegel pabrik untuk kepentingan pengembangan. Masing-masing pelaku diduga sebagai produsen dan pengecer," Gatot, saat konferensi pers di Gowa, Sulsel, Rabu 19 April 2017.

Berdasarkan penyelidikan sementara, pelaku disebut memproduksi pupuk oplosan dengan tiga bahan baku. Yakni batu kapur, pupuk urea, dan zat pewarna kue warna hijau. Semua bahan diaduk merata hingga sebelum dimasukkan ke dalam kemasan.

Gatot menjelaskan, kedua pelaku diduga menjual pupuk non subsidi dengan mutu tak sesuai dengan keterangan komposisi. Barang bukti yang disita berupa 2.700 kilogram pupuk bermerek Poppro serta 1.600 kilogram pupuk merek Super Kompor.

"Peredaran pupuk di sekitar kabupaten Gowa, Takalar, Jeneponto, Sinjai, dan beberapa daerah lain di Sulsel. Praktik ini sudah berlangsung belasan tahun dengan jumlah peredaran puluhan ribu kemasan," ujar Gatot.

Atas perbuatannya, pelaku akan dijerat dengan Pasal 60 dan 37 Undang-undang RI Nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. "Ancaman pidana penjara paling lama lima tahun dengan denda maksimal Rp2 Miliar," kata Gatot.

Kepala Seksi Pupuk dan Pestisida Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Sulsel Uvan Shagir menyatakan, pihaknya akan menguji lebih lanjut barang-barang bukti di laboratorium. Pengujian untuk mengetahui unsur kimia pada pupuk dan dampaknya terhadap tanaman serta manusia.

Menurut Uvan, berdasarkan pengamatan sementara, pupuk yang disita tidak sesuai dengan yang dianjurkan pemerintah. Jika digunakan, bakal merugikan petani. Dampak utamanya adalah jumlah produksi yang menurun.

"Efeknya tidak langsung kelihatan. Tapi kasihan petani, beli murah pupuk tapi tidak ada hasilnya," katanya.


(ALB)

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

KPK Bakal Pelajari Pernyataan Miryam

1 day Ago

Miryam S. Haryani yang menyebut ada pertemuan anggota Komisi III DPR dengan pejabat KPK setingk…

BERITA LAINNYA