Jelang Imlek, Pengrajin Lilin di Tangerang Kebanjiran Order

Hendrik Simorangkir    •    Senin, 12 Feb 2018 17:42 WIB
perayaan imlek
Jelang Imlek, Pengrajin Lilin di Tangerang Kebanjiran Order
Pabrik produksi lilin di wilayah Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Medcom.id/Hendrik

Tangerang: Menjelang perayaan hari raya Imlek yang jatuh pada 16 Februari 2018, pengrajin lilin di Tangerang kebanjiran pesanan atau order. Tingginya permintaan terhadap salah satu perlengkapan sembahyang ini sudah dirasakan sejak Desember 2017.

Hal itu dirasakan Chan Ase, pemilik rumah produksi lilin yang berada di Jalan Kebon Kopi Gupo, Kelurahan Kampung Melayu Barat, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang.

Sejak dua bulan terakhir, permintaan pesanan lilin berukuran besar yang bisa mencapai tinggi hingga 1,8 meter untuk Imlek meningkat drastis. Di rumah produksi yang bertempat persis di belakang kantor Kecamatan Teluk Naga itu, ribuan batang lilin dibuat.

"Kalau menjelang Imlek memang ramai pesanan. Pesanan datang sejak dua bulan sebelum Imlek, orderan datang terus," kata Ase saat ditemui Medcom.id, Minggu, 10 Feberuari 2018. 



Ase menjelaskan rumah produksi lilin baru ia kelola sejak satu bulan lalu. Sebelumnya, bisnis tersebut dimiliki oleh ayahnya Chan Yau Seng, 65. 

"Januari mulai mengelola sepenuhnya usaha ini. Kini, ayah sudah memiliki usaha yang sama di Pontianak, Kalimantan Barat. Tapi, pelanggan hingga saat ini tahunya ini masih punya ayah, maka dari itu nama pabrik ini saya namakan rumah produksi lilin Koh Aseng," ujar anak kedua dari lima orang itu. 

Ase menceritakan produksi lilin telah dirintis sejak 1998. Awalnya dia mendiami rumah kontrakan kecil untuk menjalani bisnisnya. 

"Dari 1998 hingga 2005 kita produksi di rumah kontrakan dengan mempunyai tiga alat cetak. Tapi, dari 2006 hingga kini, kami telah memiliki tempat sendiri yang sekarang kami tempati ini dan 30 cetakan telah kami punya," tuturnya. 



Menurut Ase, pemesan lilin merah tidak hanya dari Jabodetabek, bahkan sampai luar kota seperti Batam, Medan, Jambi, Pontianak, dan Singkawang.

"Pembeli lilin merah biasanya memesan dalam partai besar yang kemudian dijual lagi," jelasnya.

Harga yang ditawarkan untuk satu batang lilin bervariasi. Lilin kecil berukuran jari tangan orang dewasa dijual Rp15 ribu, sedangkan ukuran besar dijual hingga Rp15 juta. Namun, Ase enggan menyebutkan omzet yang diterimanya saat momen Imlek ini.

"Saya tidak bisa kasih tahu, pokoknya orderan tahun ini meningkat jelang Imlek. Peningkatannya bisa lebih dari 50 ribu kati (1 kati = 6 1/4 ons)," katanya. 

Dia mempekerjakan sekitar 25 anak buah untuk memproduksi lilin setiap Senin hingga Sabtu dengan waktu kerja pukul 07.00-16.00 WIB. 

Ia menambahkan, jika sedang tidak banyak pesanan, lilin yang diproduksi lebih banyak berukuran kecil. 

"Pengusaha produksi lilin bisa dapat untung secara musiman. Namanya juga usaha ada naik dan turun. Tapi, saya tetap produksi lilin jika lagi sepi orderan," tutur pria yang sangat akrab dengan pekerjanya ini. 

Pembuatan lilin raksasa ini sendiri tidak mudah dilakukan. Prosesnya dimulai dengan mencairkan bahan baku lilin di dalam drum besar selama kurang lebih tiga jam.

Kemudian, tahap selanjutnya adalah mencampur bahan baku dengan pewarna merah. Waktu pencetakan dan pengerasan lilin cair bervariasi sesuai ukuran. 

Bahan dasar pembuatan lilin itu sendiri berasal dari parafin, lemak minyak goreng, dan campuran sisa pembakaran lilin lainnya. 

Menurut Ase, proses pembuatan mulai dari bahan baku hingga menjadi lilin siap pakai membutuhkan waktu hingga satu minggu. 

"Tapi saat banyak pesanan seperti ini, kita kerjakan sistem estafet. Produksi lilin bisa sampai empat hari selesai," ucapnya.  

Sekilas, tempat itu tak nampak berbeda dengan gudang pada umumnya. Namun, suasana berubah ketika memasuki bagian tengah rumah produksi, di sana terdapat lilin merah berbagai ukuran terpajang rapi. 

Memasuki belakang rumah produksi terlihat proses pembuatan lilin mulai dari pembakaran, pencetakan, hingga pencairan. 

Selain memproduksi lilin merah, Ase juga membuat lilin putih. Kualitas lilin yang diproduksi di sana ada dua macam, yaitu lilin dari bahan murni dan lilin dari bahan bekas bakar atau lilin murni yang dibentuk lagi menjadi lilin. Dari keduanya, terdapat perbedaan yakni lilin murni masih tampak terang, sedangkan lilin bekas bakar nampak buram.


(ALB)