Gubernur Kaltim Komitmen Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

Anggi Tondi Martaon    •    Kamis, 22 Dec 2016 12:00 WIB
berita kaltim
Gubernur Kaltim Komitmen Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca
Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak diundang sebagai pembicara di paviliun Indonesia di The United Nations Framework Convention on Climate Change ke-22 (Foto:Humas Pemprov Kaltim)

Metrotvnews.com, Samarinda: Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak diundang sebagai pembicara di paviliun Indonesia di The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) ke-22. Konfrensi yang digelar oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) itu digelar di Bab Ighli, Marrakech, Maroko pada 7-18 November lalu.

Awang mengatakan, acara tersebut merupakan lanjutan dari kegiatan UNFCCC ke-21 di Paris. Menurutnya, kehadiran dirinya pada acara tersebut tak lepas dari komitmen Kaltim menjaga kelestarian dan menurunkan emisi.

"Kehadiran saya, karena saya sebagai salah satu Gubernur yang mempunyai komitmen yang sangat jelas terhadap penurunan emisi gas rumah kaca," kata Awang.

Awang mengungkapkan, faktor utama rusaknya lingkungan disebabkan oleh tingginya laju deforestasi dan degradasi hutan. Rusaknya hutan menimbulkan berbagai bencana berupa banjir, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, maupun bencana ekologi lainnya.

Dengan besarnya ancaman yang diberikan, Awang menyampaikan komitmen pihaknya untuk menurunkan laju deforestasi melalui Green Growth Compact (GGC). Diharapkan komitmen ini mampu mengurangi deforetas hingga 80 persen pada 2020.

GGC merupakan kesepakatan pembangunan hijau di Kaltim. Kesepakatan itu telah mendapatkan komitmen dari pemerintah pusat, kabupaten, universitas, perusahaan, organisasi non-pemerintah internasional, dan institusi pembangunan termasuk TNC.

"Yang Jelas, konsep kita adalah pertumbuhan ekonomi hijau yang harus terus kita upayakan di Kaltim," ungkap dia.

Selain itu, Awang juga menyinggung soal karst yang berpotensi menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Sebab, sejumlah investor telah berencana membangun pabrik semen yang bahan bakunya berasal dari karst.

"Kita akan teliti dulu. Soal karst itu ada yang dilindungi dan boleh dibudidayakan. Soal investor yang akan membangun pabrik semen di Kaltim, nantinya akan ada tim terpadu untuk melihat hasil studi kelayakan dan amdalnya. Yang jelas, pembangunan pabrik memang penting karena Kaltim kekurangan 1,7 juta ton semen per tahun," ucap Awang.


(ROS)