Bos Biro Umrah Global Inspira Ditangkap

Andi Aan Pranata    •    Selasa, 10 Apr 2018 16:57 WIB
penipuanibadah umrah
Bos Biro Umrah Global Inspira Ditangkap
Polda Sulsel menahan pemilik perusahaan travel umrah Global Inspira Indonesia. (Medcom.id/Andi Aan P)

Makassar: Pemilik perusahaan Global Inspira Indonesia (GII) yang merupakan pasangan suami istri, Muhammad Erwin Jabbar dan Mahditiara Syafruddin, ditangkap polisi. Mereka ditangkap lantaran diduga menipu calon jemaah umrah. 

"Dugaan penipuan terhadap jemaah umrah oleh PT Global Inspira Indonesia modusnya hampir mirip dengan PT ABU Tours. Sama-sama menggunakan sistem gali lubang tutup lubang," kata Dicky saat konferensi pers di Mapolda Sulsel, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulsel, Selasa, 10 April 2018.

Bos GII ditangkap berdasarkan laporan lima korban pada November 2017. Para korban mengaku telah menyetor duit Rp17 juta untuk umrah. Namun, tak kunjung diberangkatkan hingga tenggat waktu. 

"Dari hasil penyelidikan, dana jemaah sebagian untuk penerbangan umrah. Sisanya, tidak terakomodir diduga digunakan untuk kepentingan lain," bebernya. 

Dicky mengungkapkan, GII berdiri sejak tahun 2010 dan berkantor pusat di Makassar. Perusahaan travel umrah itu membuka satu cabang di Surabaya, Jawa Timur. 

Hasil audit menunjukkan, perusahaan ini gagal memberangkatkan hampir lima ribu orang dengan total dana yang terkumpul sekitar Rp100 miliar. 

"Jemaah sudah diberangkatkan sejak beberapa tahun lalu. Tapi yang di tahun 2017 dan 2018 sudah tersendat. Bahkan ada korban yang ditawarkan dengan promo murah sampai Rp7 juta, dengan janji terbang pada tahun 2021," ujar Dicky.

Dia mengungkap, pelaku kesulitan memberangkatkan jemaah karena kenaikan biaya akomodasi dan pesawat. Namun, polisi tak percaya. 

"Masih diselidiki," dia melanjutkan.

Polisi memburu bos GII sejak akhir 2017. Walhasil, Erwin ditangkap di Makasssar sementara istrinya, Mahditiara ditangkap di Medan, 8 April lalu setelah kabur ke sejumlah kota. Kini keduanya berstatus tersangka. 

Polisi menyita sejumlah dokumen milik perusahaan dan 400 paspor korban yang gagal berangkat. Polisi masih mengembangkan kasus ini, untuk kemungkinan adanya tersangka lain.

Tersangka dijerat Pasal 378 subsidaer Pasal 372 juncto Pasal 55 KUHP tentang Penipuan dan Penggelapan dengan ancaman kurangan minimal 7 tahun penjara.

"Penyidik juga mengejar aset-aset tersangka karena sedang ditelusuri dugaan pencucian uang jemaah. Mirip dengan First Travel dan ABU Tours," kata Dicky.


(LDS)