Polisi Tangkap Penyebar Hoaks Penculikan Anak

Andi Aan Pranata    •    Selasa, 06 Nov 2018 14:30 WIB
penculikan anak
Polisi Tangkap Penyebar Hoaks Penculikan Anak
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani

Makassar: Tim Patroli Siber Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menangkap dua pelaku penyebar informasi bohong atau hoaks di media sosial. Dua warga kota Makassar itu, secara terpisah, diduga menyebar informasi palsu tentang penculikan anak serta penjualan organ tubuh di pasar gelap.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengungkapkan, satu pelaku bernama Nurmiati, mahasiswi beralamat jalan Tinumbu, kecamatan Bontoala. Satu lagi seorang wiraswasta warga jalan Borong Jambu, Manggala, bernama Usman. Mereka ditangkap di rumah masing-masing pada Senin 5 November 2018, berdasarkan bukti unggahan konten pada akun Facebook. 

"Pelaku memposting konten berita bohong yang belum pasti kebenarannya, yang dapat mengakibatkan keonaran di kalangan masyarakat," kata Dicky di Kantor Polda Sulsel jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Selasa 6 November.

Polisi menangkap Nurmi berdasarkan video tertanggal 21 Maret 218 yang dia bagikan di akun Facebook 'Nrmyt Umi'. Dia mencantumkan keterangan berisi, “VIDEO NO HOAX Penculikan serta penjualan organ tubuh di pasar gelap, jaga anak kalian baik baik."

Terpisah, Usman dengan akun Facebook 'Usman Abdullah' dijemput Polisi berdasarkan unggahan foto  orang dalam keadaan luka-luka. Dalam keterangan foto, dia menyebut orang itu merupakan pelaku penculikan anak yang tertangkap di jalan Batua Raya Makassar. Dia menambahkan bahwa kelompok pelaku tersebar dan mengincar anak di bawah tujuh tahun, untuk dijual organnya senilai Rp1 miliar.

"Menurut keterangan pelaku, mereka menyebar konten itu untuk mengingatkan kepada orang-orang agar selalu menjaga anaknya, serta maraknya berita penculikan," ucap Dicky.

Polisi untuk sementara sebatas menetapkan status dua pelaku itu sebagai saksi. Mereka terancam dijerat dengan Pasal 15 Undang-undang nomor 1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana. Pasal itu ditujukan bagi orang yang menyebarkan kabar yang tidak pasti dan dapat menimbulkan keonaran di masyarakat. Pelaku terancam hukuman dua tahun penjara.

Dua pelaku masih dimintai keterangan oleh penyidik. Polisi mengimbau masyarakat agar tidak terpancing kabar yang menyesatkan atau belum terbukti kebenarannya. 

“Agar tidak mudah membagikan ke medsos jika mendapat informasi yang belum ada kebenarannya. Disaring dulu. Lebig baik hati-hati,” Dicky mengatakan.



(ALB)