Menkes Ingatkan Gula Darah Dapat Berdampak Kebutaan

Agung Widura    •    Kamis, 12 Oct 2017 14:41 WIB
kesehatan mata
Menkes Ingatkan Gula Darah Dapat Berdampak Kebutaan
Menteri Kesehatan meninjau kacamata visually impaired glasses atau kacamata yang membantu menyeimbangkan penglihatan, MTVN - Agung

Metrotvnews.com Pontianak: Delapan persen masyarakat Indonesia menderita penyakit gula darah. Bila tak mendapat penanganan, penyakit itu bisa berujung pada kebutaan.

Menteri kesehatan Nila Djuwita F Moeloek gula darah juga disebut dengan penyakit kencing manis. Penderitanya bakal mengganggu sistem pembuluh darah.

"Mata merupakan akhir dari sistem pembuluh darah yang disebut Retinopati Diabetika. Kondisi itu dapat menurunkan sistem penglihatan. Saraf mata rusak dan pendarahan, hingga buta," kata Nila pada acara Peringatan Hari Penglihatan Sedunia tahun 2017 di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Kota Pontianak, Kamis 12 Oktober 2017.

Dampak itu bukan hanya terjadi pada pasien dewasa. Anak-anak yang mengalami sakit gula darah juga berpotensi mengalami kebutaan.

Selain itu, kebutaan pada warga Indonesia disebabkan dua hal. Yaitu kelainan refraksi dan katarak. Hal tersebut sesuai dengan hasil survei kebutaan rapid assessment of avoidable blindness (RAAB). Survei dilakukan di 1 provinsi tahun 2014 hingga 2016.

Lantaran itu, ungkap Nila, Kemenkes meluncurkan program Peta Jalan Penanggulangan Gangguan Penglihatan yang berlaku pada 2017 sampai dengan 20130. Tujuannya untuk meningkatkan penanggulangan kebutaan dan gangguan penglihatam.

“Peta jalan ini dibuat  untuk menggambarkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan dalam penanggulangan gangguan penglihatan guna mewujudkan masyarakat Indonesia memiliki penglihatan yang optimal melalui program mata sehat 2030,” ujar Menkes.

Untuk penanggulangan gangguan penglihatan lainnya diperlukan beberapa langkah strategis antara lain, menjamin anak sekolah dengan gangguan penglihatan dapat terkoreksi, mengembangkan pola pelayanan kesehatan komprehensif penderita retinopati diabetikum, glaukoma dan low vision, dan mengembangkan konsep rehabilitasi penglihatan yang komprehensif dan inklusif.

“Dalam meningkatkan akses masyarakat pada pelayanan kesehatan mata yang komprehensif dan bermutu, kami mempersiapkan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan baik  Puskesmas maupun Rumah Sakit yang diperkuat dengan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional untuk operasi katarak.” pungkasnya.



(RRN)