Gubernur Sulteng Ajak Masyarakat 'Bersahabat' dengan Gempa

Antara    •    Rabu, 07 Nov 2018 18:26 WIB
gempa bumiGempa Donggala
Gubernur Sulteng Ajak Masyarakat 'Bersahabat' dengan Gempa
Seorang ibu bersama anaknya menyaksikan sisa-sisa reruntuhan rumahnya yang akan diratakan dengan tanah di area bekas likuifaksi di Kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (24/10/2018). ANTARA FOTO/Basri Marzuki.

Palu: Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola mengajak masyarakat untuk 'bersahabat' atau terbiasa dengan gempa bumi. Longki mengatakan, menurut para ahli, wilayah Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah, merupakan daerah yang rawan gempa.

"Maksud bersahabat dengan gempa adalah mengikuti aturan yang telah ditetapkan agar terhindar dari bahaya saat gempa terjadi," kata Longki saat memberikan sambutan pada pembukaan seminar nasional gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu, 7 November 2018.

Longki menjelaskan, menurut para ahli yang pernah ditemuinya, Selawesi Tengah masuk dalam zona merah atau berada di jalur patahan sesar Palu-Koro.

Di tempat terpisah, akademis Universitas Tadulako Palu Eko Joko Lelono
sependapat dengan Longki. Eko mencontohkan masyarakat Jepang yang juga sudah bersahabat dengan gempa.

"Jepang itu adalah daerah paling rawan gempa. Gempa di sana bisa mencapai
magnitudo 8 pada Skala Richter, namun mereka membangun gedung dan rumah-rumah yang ketahanannya bisa mengantisipasi gempa 9 sampai 10 Skala
Richter," ungkap Eko.

Karena itu, bila ada gempa besar di Jepang, jarang sekali terdengar kerusakan parah dan masif pada bangunan-bangunan, bahkan gedung-gedung pencakar langit.

Gubernur Longki selanjutnya mengemukakan bahwa untuk mengantisipasi dampak gempa ke depan, perlu revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dan hal itu menjadi topik utama pertemuan Gubernur bersama instansi terkait lainnya yang dipimpin Wakil Presiden HM Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden Jakarta, Senin, 5 November lalu.

Longki berharap agar pembangunan yang berkelanjutan di wilayah Sulawesi Tengah bisa berjalan, maka perlu dipercepat kajian terhadap wilayah-wilayah yang berada pada zona merah gempa bumi, tsunami dan likuefaksi agar tidak ada lagi pendirian bangunan di lokasi itu.


(DEN)