BNPB Masih Mendata Kerusakan Tsunami Selat Sunda

Antara    •    Rabu, 02 Jan 2019 20:18 WIB
Tsunami di Selat Sunda
BNPB Masih Mendata Kerusakan Tsunami Selat Sunda
Sebuah mobil tersangkut di yang hancur akibat terjangan gelombang tsunami Selat Sunda di Anyer Carita, Banten, Rabu (26/12/2018). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja.

Jakarta: Kerugian akibat tsunami Selat Sunda yang melanda lima kabupaten masih dihitung.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, data tersebut nantinya akan dijadikan acuan untuk rehabilitasi.

"Dari perhitungan itu akan dihitung kebutuhan untuk masa rehabilitasi dan rekonstruksi sehingga pemerintah bisa menyiapkan anggaran," kata Sutopo di Jakarta, Rabu, 2 Januari 2019.

Sutopo menjelaskan, salah satu kebutuhan mendesak dalam penanganan pengungsi di Kabupaten Pandeglang adalah hunian sementara atau lokasi pengungsian selain bangunan sekolah.

Menurut Sutopo, lebih dari 11 ribu pengungsi di Pandeglang mengungsi di 41 bangunan sekolah yang belum digunakan karena masa libur.

"Namun, Seninm 7 Januari mendatang murid-murid sudah mulai masuk sekolah sehingga para pengungsi perlu dipindahkan," jelas Sutopo.

Sutopo kembali mengatakan, sebenarnya banyak pengungsi di Pandeglang yang mengungsi
bukan karena rumahnya rusak melainkan trauma, apalagi ada informasi kemungkinan tsunami susulan.

"Karena itu, kebijakan Pemerintah Kabupaten Pandeglang, mereka akan dikembalikan ke rumahnya masing-masing," beber Sutopo.

Sebelumnya tsunami Selat Sunda terjadi akibat aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Sabtu, 22 Desember 2018. Lima kabupaten di dua provinsi terdampak tsunami tersebut, yaitu Pandeglang dan Serang di Provinsi Banten serta Lampung Selatan, Pesawaran dan Tanggamus di Provinsi Lampung.


(DEN)