SOLID, Upaya BKP Kementan Berdayakan Petani Miskin

M Studio    •    Minggu, 09 Dec 2018 11:15 WIB
berita kementan
SOLID, Upaya BKP Kementan Berdayakan Petani Miskin
Kepala BKP Kementan Agung Hendriadi (Foto:Dok.Kementan)

Jakarta: Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) bercita-cita memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan pendapatan petani miskin. Untuk mewujudkannya, sejak 2011, BKP Kementan melaksanakan SOLID atau Smallholder Livelihood Development Program.

Kegiatan pemberdayaan maayarakat dengan sasaran petani kecil ini dibiayai dari pinjaman dan hibah International Fund for Agricultural Development (IFAD) serta dana pendamping dari pemerintah Indonesia.  

Kegiatan SOLID dilaksanakan BKP, namun pelaksanaannya  didelegasikan kepada pemerintah daerah pelaksana, yaitu di Provinsi Maluku dan Maluku Utara. Tepatnya di 11 kabupaten, yaitu Maluku Tengah, Seram Bagian Barat, Seram Bagian Timur, Buru, Buru Selatan, Halmahera Utara, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Halmahera Barat, Halmahera Timur, dan Kepulauan Sula.

Diharapkan melalui SOLID pendapatan petani miskin dapat ditingkatkan dengan melibatkan perempuan, janda, dan penduduk asli.

"Program ini berhasil dengan baik. Untuk membuktikannya tidak sulit. Kalau dahulu lantai rumahnya masih tanah, sekarang sudah semen atau berkeramik. Kalau dahulu usahanya hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sekarang sudah dijual," kata Kepala BKP Kementan Agung Hendriadi, saat meninjau program SOLID di Desa Togoliua dan Desa Ngidiho, Kabupaten Halmahera Utara, Ternate, Jumat, 7 Desember 2018.

"Kalau dahulu lahan kosong dibiarkan, sekarang ditanami. Kalau dahulu produksinya rendah, sekarang bisa lebih tinggi. Ini juga menunjukkan program ini berhasil," ucap Agung.

Program SOLID dilaksanakan sejak 2011, namun kegiatan usaha produktif baru mulai tahun 2015 ketika Kelompok Mandiri (KM)  memperoleh fasilitasi modal usaha sebesar  Rp20 juta yang diberikan selama 2 tahun.

Modal diberikan selama 2 tahun. Setiap KM juga menerima bantuan prasarana Rp10 juta untuk membangun sarana, lantai jemur, pagar, saung tani, dan lainnya.

Selain itu fasilitasi pelatihan, peralatan-peralatan usaha tani, pasca panen dan pengolahan juga diberikan kepada KM maupun unit-unit usaha atau yang lebih dikenal dengan nama sentra bisnis.

Hingga kini tercatat 53 sentra bisnis yang mendapatkan fasilitasi peralatan, prasarana dan permodalan untuk mengembangkan usaha mereka.

Salah satu penerima manfaat adalah masyarakat di Desa Ngidiho, Kecamatan Galela Timur, Kabupaten Halmahera Utara. Sepuluh kelompok di desa ini mengusahakan tomat dan cabai di lahan seluas 78,6 hektare. Lahan terdiri atas lahan tomat 42,3 hektare dan cabai 36,3 hektare.

Setiap bulan produksi tomat mencapai 286,17 ton dan produksi cabai 26,5 ton. Tomat dan cabai  dipasarkan sampai ke Ternate dan Morotai.

Melalui pelatihan yang diberikan, kini masyarakat mampu mengolah tomat dan cabai menjadi saus tomat dan cabai. Produksi saus tomat dan cabai dilakukan berdasarkan permintaan, atau ketika harga tomat dan cabai sedang jatuh, atau ketika produksi sedang berlimpah.

Keberhasilan masyarakat Desa Ngidiho bertanam tomat dan cabai berkat kerja keras Ardiamzah, Ketua Federasi Desa Ngidiho.

"Dahulu usaha tomat kami sering merugi karena harganya jatuh. Setelah ada SOLID, kami membuat tomat dalam bentuk kemasan di dalam botol. Kalau harga jatuh, bisa sampai Rp2 ribu per kg. Tapi setelah diolah, bisa dijual antara Rp5 ribu sampai Rp6 ribu. Jadi, tomat kami terselamatkan harganya," ujar Ardiamzah.

Seiring akan berakhirnya program SOLID, Agung meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait agar melakukan pembinaan.

"Saya minta program ini bisa dilanjutkan dan dilestarikan, karena sangat membantu petani miskin," ujar Agung.

"Kami akan terus kembangkan program ini di desa-desa lainnya. Polanya sudah ada, tinggal kita replikasikan menggunakan APBD," ujar Kepala Dinas Pangan Maluku  Saeful Turuy, menanggapi permintaan Agung.

Pelaksana SOLID di Seram Bagian Timur, Halmahera Tengah, dan Buru Selatan telah mengalokasikan APBD untuk mereplikasi kegiatan maupun pendampingan demi keberlanjutan program SOLID di daerah mereka. Bahkan di Seram Bagian Timur telah direplikasikan dengan membentuk 24 KM baru di 13 dusun.


(ROS)