AirNav Sorong Berupaya Perbaiki Fasilitas Navigasi Penerbangan di Timur Indonesia

Damar Iradat    •    Kamis, 25 Aug 2016 01:30 WIB
airnav
AirNav Sorong Berupaya Perbaiki Fasilitas Navigasi Penerbangan di Timur Indonesia
PJ AirNav Sorong Hadi Mulya memperlihatkan ADC. Foto: Metrotvnews.com/Damar Iradat.

Metrotvnews.com, Sorong: Kemegahan Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Sorong, Papua Barat nyatanya belum diiringi oleh maksimalnya fasilitas pelayanan navigasi penerbangan. Butuh perbaikan untuk melengkapi kenyamanan penerbangan di barat pulau Cendrawasih itu.

Kantor Pelayanan Navigasi Penerbangan (KPNP) AirNav Sorong, sebagai penyedia layanan navigasi penerbangan menyadari soal kurangnya fasilitas tersebut. Karena itu, AirNav Sorong berupaya memperbaiki kinerja dan fasilitas navigasi penerbangan di bandara yang menjadi salah satu pintu masuk tempat pariwisata Raja Ampat tersebut.

Penanggung Jawab AirNav Sorong Hadi Mulya mengatakan, ada beberapa program yang akan menopang perbaikan pada AirNav Sorong. Pertama, soal pemisahan Aerodrome Control Tower (ADC) dan Approach Control Office (APP).

"ADC ini kitasebatas jarak pandang, sementara APP-nya, kita hanya bisa mengontrol pesawat dengan jarak di bawah 24.500 kaki," ungkap Hadi di AirNav Sorong, Rabu (24/8/2016).


Suasana Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Sorong, Papua Barat. Foto: Metrotvnews.com/Damar Iradat.


Dengan kondisi seperti itu, pihaknya masih memantau pergerakan pesawat terbang dengan laporan dari pilot. Menurutnya, sejauh ini APP yang dimiliki AirNav Sorong sudah tersedia radar monitor, namun, untuk pelayanannya masih bersifat non-radar.

Selain itu, AirNav Sorong juga berupaya mengoptimalkan instrument landing system (ILS) untuk membantu pendaratan. ILS diperlukan agar pendaratan pesawat lebih presisi, pilot pun akan mudah terbantu dengan keberadaan ILS.

Hadi menuturkan, saat ini, soal ILS masih dalam tahap proses lelang. Namun, Ia berharap proses lelang bisa segera selesai.

AirNav Sorong juga saat ini telah memasang biling data system (BDS) dan billing cash system (BCS). Kedua komponen ini, jelas Hadi, secara otomatis menginput flight plan, melakukan penagihan, dan mendeteksi berapa besaran pemasukan AirNav Sorong dari operator pesawat terbang.


Suasana kerja di tower ATC di Bandara Domine Eduard Osok (DEO), Sorong, Papua Barat. Foto: Metrotvnews.com/Damar Iradat.

AirNav Sorong, kata dia, tengah mengupayakan pengadaan gedung power house. Sebab, pada 2017 mendatang diwajibkan memiliki persediaan energi secara Mandiri.

"Otomatis kita akan bangun gedung power house," tutur dia.

Selama ini, Hadi menjelaskan, AirNav masih disupply dari UPBU. Hal ini kata dia memerlukan biaya tambahan setiap bulannya untuk membayar listrik.

Yang terpenting dalam upaya perbaikan fasilitas di Bandara DEO yakni renovasi tower air traffic controler (ATC) yang sempat rusak akibat gempa yang melanda Sorong, pada medio September tahun lalu. Selama tower ATC direnovasi, AirNav berencana menggunakan mobile tower dari cabang Jayapura.

"Dalam waktu dekat akan dilakukan assesment dari tim safety management system cabang Jayapura. Hasilnya nanti, kalau memang mobile tower bisa untuk layanan, kita akan pindahkan dari tower ke mobile tower," papar dia.

Selama ini, AirNav Sorong telah melayani pergerakan pesawat rata-rata 45-50 movement per harinya. Jika ditotal dari Januari hingga Juni 2016, tercatat ada sekitar 7.691pergerakan pesawat yang mereka layani.

Mereka melayani maskapai seperti Garudan Indonesia, Sriwijaya Air, Express Air, Nam Air, Wings Air, serta Travira. Tidak hanya itu, mereka juga melayani penerbangan perintis seperti Susi Air dengan tujuan Kambuaya, Inawatan, Teminabuan, Marinda/Wasai, dan Ayawasai.


(AZF)

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

5 days Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA