Guru Honorer Hanya Amini Pernyataan JK

Farhan Dwitama    •    Jumat, 09 Feb 2018 11:53 WIB
pendidikanguru
Guru Honorer Hanya Amini Pernyataan JK
Ahmad Tartusi,30, bersama Guru-guru dan siswi berprestasi di SDN Dirgantara, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. (dok Tartusi)

Tangerang: Sudah 11 tahun lebih Ahmad Tartusi, 30, mengabdi sebagai guru honorer di SDN Dirgantara, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang. Pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla berencana mengangkat guru honorer, hanya diamini Tartusi. Namun dia tidak banyak menaruh harapan, terkait wacana pengangkatan tersebut.

"Sudah 11 tahun menunggu, kalau dibilang lelah. Ya, melelahkan. Informasi pengangkatan kan sudah dari dulu, dari tahun ke tahun juga ada kabar itu (pengangkatan K2), tapi saya sih pasrah saja,” kata Tartusi, Jumat 9 Februari 2018.

Sebagai tenaga pengajar honorer, Tartusi tidak sendiri, beberapa rekannya di SDN Dirgantara justru telah lebih lama darinya. Tentu, keinginan diangkat menjadi PNS adalah hasrat utama hingga para tenaga guru honorer di sekolah ini memilih bertahan. 

Baca: Pemerintah akan Angkat Puluhan Ribu Guru Honorer

Namun 11 tahun berjalan, Tartusi belum tahu kapan bisa menjadi abdi negara dengan tingkat kesejahteraan lebih. Dari jerih payahnya mengajar, Tartusi mengaku diupah Rp400 ribu per bulan ditambah tunjangan daerah dari Pemkab Tangerang sebesar Rp700 ribu per bulan. Angka tersebut pastilah kurang, apalagi sebagai kepala keluarga yang harus menghidupi dua anak dan seorang istri. 

"Dari UMK saja masih jauh. Belum lagi kalau lagi anak sakit, aduh rasanya udah bingung saja,” keluh dia. 

Sepengetahuan Tartusi, ada ratusan tenaga guru honorer di Kabupaten Tangerang yang sedang menunggu pengangkatan. Menurut dia pun, ada tenaga guru honorer yang hingga pensiun tak juga diangkat.

Dia hanya bisa mengamini pernyataan Wapres Jusuf Kalla yang bakal mengangkat puluhan ribu guru honorer. Dia berharap rencana itu bisa terealisasi, pasalnya seluruh persyaratan telah dia penuhi. 

“Mudah-mudahan, aamiin ya Allah,” ucap dia.

Bukan hanya Tartusi, guru honorer SDN Gurukbuk, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Ade Evawati, merasakan kepiluan serupa. Ade telah 16 tahun berstatus guru honorer di tempatnya mengajar. 

“Ya mau enggak mau dijalani, tuntutan profesi dan saya memang senang sebagai guru,” ucap dia, Jumat 9 Februari 2018. 

Ade mengaku, sangat menginginkan menjadi tenaga guru berstatus aparatur sipil negara (ASN). Dia mengatakan, telah melengkapi seluruh persyaratan pengangkatan guru honorer K2 untuk diangkat menjadi ASN. 

“Harapannya kalau ASN itukan lebih sejahtera, masa depan lebih jelas, ada pensiunan,” bilangnya. 

Saat ini, kata dia, honor sebagai guru honorer di tempatnya mengajar jauh dari layak. Menurutnya, honor dna tunjangan yang didapat jauh di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). 

“Kami kalau ditotal belum sampai Rp2 juta, kalau bisa di bawah UMK sedikitlah. Apalagi sekarang semua serba naik,” kata dia.



(LDS)