Polisi Ungkap Kelompok Gay Incar Anak-anak

Antara, Agung Widura    •    Rabu, 06 Dec 2017 17:49 WIB
pelecehan seksualkontroversi lgbt
Polisi Ungkap Kelompok Gay Incar Anak-anak
Direktur Ditkrimsus Polda Kalbar AKBP Mahyudi Nazriansyah saat release di Mapolda Kalbar -- medcom.id/Agung Widura

Pontianak: Tim Cyber Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Barat mengungkap aksi kelompok gay yang mengincar korbannya di dunia maya. Korban yang rata-rata masih anak-anak digunakan sebagai pemuas nafsu menyimpang mereka.

"Dalam kasus gay atau LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) ini, kami menangkap tiga tersangka, yaitu DHP, 27; RS, 19, warga Pontianak; dan Efa atau Deo, 27, warga Kapuas Hulu pada Senin, 4 Desember 2017," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar AKBP Mahyudi Nazriansyah di Pontianak, Rabu, 6 Desember 2017.

Mahyudi menjelaskan, dari ketiga tersangka gay tersebut, satu di antaranya mengidap HIV/AIDS dan TB. Sehingga, sangat berbahaya sekali karena bisa saja tersangka menyebarkan penyakit kepada para korbannya.

"Dari pengakuan ketiga tersangka tersebut, jumlah anggotanya sudah mencapai 100 orang. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, tersangka yang mengidap HIV/AIDS tersebut sudah melakukan hubungan seks sesama jenis dengan korban yang rata-rata anak-anak lebih dari 100 kali. Korbannya pun berbeda-beda," ungkapnya.

Menurut Mahyudi, sasaran kelompok gay tersebut anak-anak karena mudah dipengaruhi. "Mereka melakukan aksinya dengan mengirimi korbannya foto-foto 'syur' yang melanggar kesusilaan. Sehingga, korbannya terbujuk rayuan untuk melakukan hubungan sesama jenis tersebut," lanjutnya.

Pada kesempatan itu, Direskrimsus Polda Kalbar mengimbau kepada masyarakat atau para orang tua untuk mengawasi anak-anak agar tidak terlibat dalam pergaulan bebas. Sebab, korban sangat berisiko tertular HIV/AIDS.

Adapun barang bukti dari ketiga tersangka yang diamankan, di antaranya screenshot akun Facebook, Twiter, serta ponsel berbagai merek yang digunakan untuk aktivitas melanggar kesesusilaan dalam mencari korbannya. Ketiga tersangka diancam Pasal 45 ayat (1) Jo Pasal 27 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman hukuman penjara maksimal enam tahun atau denda maksimal Rp1 miliar.

Mahyudi menambahkan, pihaknya akan bekerjasama Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Kota Pontianak dalam memproses hukum dan memberikan pendampingan terhadap korban anak-anak.


(NIN)

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

Asep Iwan: Proses Hukum Terus Berlangsung Meski Setnov Bungkam

9 minutes Ago

Pakar hukum pidana Asep Iwan Iriawan menerangkan bahwa drama apapun tak akan mengganggu proses …

BERITA LAINNYA