BI Restui E-money Paytren Milik Yusuf Mansur

Hendrik Simorangkir    •    Sabtu, 02 Jun 2018 10:29 WIB
transaksi non tunai
BI Restui E-money Paytren Milik Yusuf Mansur
Peluncuran layanan uang elektronik atau e-money milik Yusuf Mansur.

Tangerang: Layanan uang elektronik atau e-money Paytren milik Yusuf Mansur resmi diluncurkan setelah mendapat izin dari Bank Indonesia. Sebelumnya, layanan yang dikelola PT Veritra Sentosa Internasional ini, sempat ditutup lantaran terkendala izin. 

"Alhamdulillah, layanan ini 100 persen sudah mendapatkan izin dari Bank Indonesia," ujar Yusuf saat peluncuran Paytren di Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an, Cipondoh, Tangerang, Jumat 1 Juni 2018. 

Yusuf mengatakan, Paytren dari berbagai aspek kelayakan bisnis, sistem informasi, manajemen risiko sesuai peraturan Bank Indonesia mengenai uang elektronik sudah diperbarui pada 2017. 

"Sejak awal 2014, Paytren sudah mengajukan izin penerbit uang elektronik kepada Bank Indonesia, hingga akhirnya dengan pertumbuhan yang semakin pesat dan perkembangan komunitas mitra menambah keyakinan manajemen Paytren," jelasnya. 

Paska-peluncuran pada hari ini, Yusuf menargetkan, Paytren dapat mengumpulkan 10 juta pengguna dengan dana yang dikelola mencapai Rp30 triliun per bulan.

"Kalau kita berhasil mengumpulkan 60 juta orang di Paytren, kita bisa kelola sampai Rp120 triliun, itu masih kecil," katanya.

Dengan layanan itu, Yusuf menambahkan, pengguna dapat melakukan banyak transaksi, seperti membayar pulsa telepon dan listrik. Bahkan, lanjutnya, bagi WNI di Malaysia dan Hongkong pun bisa membeli pulsa lewat Paytren dan bisa mengirim uanh ke kampung halamannya. 

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menjelaskan, kehadiran layanan uang elektronik Paytren dapat menjadi sarana percepatan inklusi keuangan di Indonesia.

"Inklusi keuangan di Indonesia tahun 2014 hanya 36 persen atau 96 juta orang, tahun 2017 sudah meningkat jadi 130 juta jiwa, tapi jumlah itu belum mencakup setengah dari penduduk Indonesia," kata Rudiantara.

Rudiantara mentatakan, dengan target inklusi keuangan yang mencapi 75 persen di tahun 2019 mendatang, persiapan dari segi infrastruktur sudah mampu untuk mendukung. Namun, untuk mencapai target tersebut, perlu dukungan dari elemen lain, seperti pengembangan layanan keuangan elektronik (fintech).

"Dari sisi infrastruktur nggak masalah, karena jaringan ponsel dan 4G di indo sata ini lebih dari 75 persen. Nah, teknologi baru model Paytren ini bentuk inklusi keuangan informal," pungkasnya.

Layanan Paytren milik Yusuf Mansur ini sebelumnya sempat dihentikan Bank Indonesia selama setahun, karena belum mendapat izin. Namun, pada 22 Mei 2018, Bank Indonesia resmi mengeluarkan izin dengan nomor 20/307/DKSP/Srt/B perihal persetujuan izin sebagai penertib uang elektronik server based. 


(ALB)