Hijrah dari Kebencian

   •    Kamis, 21 Sep 2017 08:25 WIB
Hijrah dari Kebencian
Hijrah dari Kebencian

Selamat Tahun Baru! Meski hari ini merupakan Tahun Baru Hijriah, ucapan itu disampaikan bukan hanya untuk umat Muslim.

Sebagaimana hakikat Islam sebagai rahmat untuk seluruh alam, sejatinya bahwa segala kebaikan tahun baru itu menjadi milik bersama. Hikmah dimulainya penanggalan hijriah terlalu kecil untuk menjadi kebahagiaan satu kelompok. Terlebih, hikmah itu juga kontekstual untuk bangsa Indonesia saat ini.

Seperti yang sudah sering dituturkan, penanggalan hijriah dibuat berdasarkan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Yastrib, yang sekarang disebut Madinah. Meski kehidupan di Mekah telah begitu memusuhi umat Muslim dan dakwah Islam, migrasi itu bukanlah pelarian kekalahan.

Migrasi itu adalah bentuk kepatuhan kepada Allah SWT. Setiap langkah untuk jarak 454 km ke utara itu dijalani Rasul dengan penuh optimisme. Umat Muslim saat itu belajar untuk tidak berpasrah dengan keburukan melainkan bangkit beranjak menuju kebaikan.

Hijrah itupula kemudian momentum tentang persaudaraan dan kasih sayang. Penduduk Madinah menerima para Muslim pengungsi tersebut dengan tangan terbuka. Bukan sekadar bantuan pengisi perut, kasih sayang kaum Anshar mencakup hingga kemampuan untuk berdaya kembali. Para pendatang diizinkan untuk mengolah lahan sebagaimana penduduk lainnya. Perdamaian pun terjalin dengan penduduk Madinah yang berlainan agama.

Peristiwa hijrah itu juga dikenal sebagai momen persaudaraan yang hakiki. Perbedaan agama bukanlah penghalang untuk persatuan bahkan kemajuan. Sebab dalam 11 tahun, Madinah yang jamak suku dan agama itu menjadi kota yang maju, makmur, dan bermartabat.

Lalu dimanakah bangsa ini jika berkaca pada momen itu? Indonesia memang belum jadi Madinah yang menyambut perbedaan. Namun, kita juga harus percaya bahwa Indonesia bukanlah Mekah yang saat itu penuh kebencian dan fitnah.

Seruan-seruan kebhinekaan dan persatuan yang belakangan ini kembali hidup sesungguhnya telah membawa kita pada hijrah. Sayangnya, ujaran kebencian dan fitnah yang begitu getol disuarakan kelompok tertentu membawa kelimbungan pada sebagian masyarakat.

Sebentar-sebentar isu SARA hingga komunisme mudah membangkitkan emosi. Jari-jari tangan pun masih dengan gampangnya membagikan artikel-artikel hoax picisan. Lebih menyedihkan lagi karena kita ibarat buta walau jalan hijrah itu telah begitu benderang. Segala pengungkapan bisnis kebohongan dan kampanye hitam tetap tidak dijadikan petunjuk akan pihak-pihak yang menginginkan perpecahan. Pihak-pihak yang menggunakan cara kotor demi keuntungan dan kekuasaan.

Sungguh merugi jika langkah hijrah kita menjadi surut. Sekali melangkah mundur sesungguhnya makin jauh kita dari merengkuh kemajuan dan kemakmuran. Kita pun lama kelamaan harus hidup dalam keburukan itu.