Menunggu Penantang Jokowi

   •    Kamis, 05 Jul 2018 08:01 WIB
pilpres 2019
Menunggu Penantang Jokowi
Menunggu Penantang Jokowi

AKTOR utama demokrasi ialah rakyat. Begitulah semestinya fondasi cara pandang kita dalam menilai setiap kompetisi politik, termasuk dalam kontestasi menghasilkan pemimpin bangsa. Di alam demokrasi, rakyatlah yang semestinya diberi panggung untuk menjalankan peran sebagai aktor utama, bukan elite dan para calon pemimpin yang cuma segelintir itu.

Dalam konteks pemilihan presiden yang akan dilangsungkan tahun depan, selayaknya pemeran utama, rakyat, disuguhi pilihan yang terbaik. Sangat tidak patut bila rakyat disodori kandidat yang buruk, bahkan busuk, yang merupakan hasil penyaringan di level partai politik yang tidak ideal.

Mengulur waktu pengumuman kandidat hingga mendekati batas pendaftaran calon boleh jadi masuk kategori penyaringan yang tak ideal itu. Mengapa?

Kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya bahwa penentuan calon di menit-menit akhir itu bukan disebabkan para elite partai politik ingin betul-betul mencari sosok calon pemimpin yang bisa menjadi pilihan rakyat, melainkan tak lebih dari proses tawar-menawar dan pertarungan kepentingan antarparpol. Praktik yang jelas-jelas menegasikan peran rakyat itu semestinya segera diakhiri.

Dengan perspektif itu, kita menyambut sangat positif bila satu-satunya calon presiden yang sudah pasti bakal maju di Pilpres 2019, Joko Widodo, akan segera mengumumkan calon wakil presiden yang bakal mendampinginya dalam waktu dekat. Kabar yang santer beredar Jokowi akan menentukan bakal calon wakilnya sebelum 15 Juli 2018 alias pekan depan.

Harus diakui, jawaban atas teka-teki siapa calon yang bakal menemani Jokowi memang menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu publik. Terlebih di tengah pergelutan di antara sebagian parpol pendukung Jokowi yang menginginkan posisi cawapres itu. Pengumuman bakal cawapres dalam waktu dekat-dekat ini setidaknya akan mengakhiri spekulasi-spekulasi yang terus bergulir.

Publik juga berharap, setelah Jokowi menetapkan calon wakilnya, penantang Jokowi juga segera dapat dipastikan. Hal itu penting karena sedapat mungkin negeri ini menutup rapat-rapat kemungkinan terjadinya calon tunggal dalam Pilpres 2019. Fenomena calon tunggal sejatinya hanya hidup di alam sentralistis dan menjauh dari alam demokrasi.

Karena itu, demi menjunjung demokrasi yang pada hakikatnya menyediakan beragam pilihan dan alternatif bagi publik, kita menginginkan penantang Jokowi segera dapat dihadirkan. Dua penantang lebih baik, tapi satu pun tak apa, karena yang penting rakyat punya pilihan tidak tunggal. Akan semakin ideal bila baik parpol pendukung maupun pengusung calon penantang itu tidak mengulang kebiasaan lama, menentukan pilihan di saat-saat akhir pendaftaran, 10 Agustus 2018 mendatang.

Patut diingat, menyediakan pilihan di awal waktu sesungguhnya juga merupakan sebuah pendidikan politik. Dalam setiap kontestasi demokrasi, rakyat harus diberi ruang untuk bisa lebih mendalami, mengamati rekam jejak, dan menentukan pilihan secara detail ihwal sosok calon pemimpin serta program apa saja yang mereka ajukan.

Dus, wahai para elite parpol, tak perlu berlama-lama menetapkan capres dan cawapres agar rakyat bisa segera menilai dan tak tersesat dalam menentukan pilihan mereka.