Bersolek Bandara dengan Kereta

   •    Kamis, 28 Dec 2017 08:21 WIB
kereta bandara
Bersolek Bandara dengan Kereta
Bersolek Bandara dengan Kereta

Dimulainya uji coba resmi kereta Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, ibarat melonggarkan leher botol yang sempit. Kebutuhan akan kereta ini memang begitu mendesak, sebab lalu lintas manusia dari dan menuju Bandara Soekarno-Hatta mencapai 60 juta orang per tahun.

Bila hanya bersandar pada mobil, tol yang merupakan akses utama menuju bandara merupakan ruas yang sangat rawan macet. Belum lagi jika terjadi insiden di ruas itu, kesemrawutan lalu lintas bisa berdampak hingga Jakarta.Kita pun terlihat sebagai negara yang gagap menangkap buah industri pariwisata.

Ketiadaan infrastruktur membuat tingginya arus manusia tidak selamanya terasa sebagai buah yang manis. Terlebih kondisi itu berlarut akibat terus molornya jadwal pengoperasian dari seharusnya pada 2014.Kita mengapresiasi selesainya proyek yang merupakan penugasan pemerintah kepada PT KAI itu.

Proyek kereta Bandara Soekarno-Hatta kemudian dijalankan dengan investasi PT Railink, PT Kereta Api Indonesia (persero), dan PT Angkasa Pura II (persero). Ketidaksabaran warga untuk menggunakan proyek yang pengoperasiannya molor dari jadwal 2014 itu terlihat langsung pada hari pertama uji coba, Selasa (26/12).

Pada siang hari, antrean membeludak dan calon penumpang harus menunggu hingga 2,5 jam untuk naik kereta. Berbagai kendala dan kelambatan dalam proses pembelian tiket juga dikeluhkan. Kelemahan tersebut ialah hal yang mutlak segera diperbaiki.

Di sisi lain, kelemahan-kelemahan itu juga tidak mengerdilkan keberhasilan kerja sama pemerintah dan tiga badan usaha tersebut dalam menuntaskan pekerjaan rumah besar di sektor transportasi publik. Tidak hanya itu, penyediaan kereta bandara sesungguhnya juga wujud penyempurnaan ekonomi biaya murah.

Sejauh ini kita bisa melihat sektor penerbangan dan pariwisata sedang menuju industri berbiaya rendah. Keberadaan kereta bandara juga tak perlu dikhawatirkan akan mengancam pendapatan layanan transportasi lain. Hal itu disebabkan bukan hanya pengguna bandara yang masih jauh lebih besar daripada kapasitas kereta, melainkan juga efek pertumbuhan yang terus tercipta.

Sebagaimana terjadi di sektor industri mana pun, termasuk jasa, kelengkapan infrastruktur akan berdampak pada pertumbuhan pasar atau konsumen. Kue ekonomi bukan semakin kecil, melainkan justru semakin besar. Perubahan yang telah dilakukan di Jakarta semestinya pula diduplikasi segera di daerah lain.

Sejauh ini, baru Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Kualanamu, Sumatra Utara, yang sudah mengoperasikan kereta bandara. Proyek serupa semestinya juga dapat diinisiasi pemerintah-pemerintah daerah dengan badan usaha mereka ataupun dengan swasta. Penyediaan kereta bandara justru seharusnya sudah dimulai sebelum penumpukan lalu lintas manusia terjadi.

Lebih jauh lagi, keberhasilan proyek kereta bandara menjadi tolok ukur baru dalam penyediaan transportasi publik di negeri ini. Transportasi massal yang murah, cepat, dan nyaman ialah sebuah kebutuhan mutlak. Saat masyarakat kian cerdas dalam menentukan pilihan, saatnya pula para pengelola layanan transportasi publik memenuhi kebutuhan tersebut dengan baik.

Bandara Soekarno-Hatta semakin molek dengan beroperasinya kereta bandara. Kereta bandara melengkapi beroperasinya sky train alias kereta yang melayani mobilitas penumpang dari satu terminal ke terminal lain. Dengan beroperasinya kereta bandara dan sky train,

Bandara Soekarno-Hatta tidak terlampau tertinggal jauh bila dibandingkan dengan bandara-bandara internasional di negara-negara lain. Sebagai etalase Indonesia, kemolekan Bandara Soekarno-Hatta dengan hadirnya kereta bandara dan sky train diharapkan menarik semakin banyak wisatawan ke Indonesia.


KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA