Menyembelih Ego dalam Diri

   •    Jumat, 01 Sep 2017 07:09 WIB
iduladha 2017
Menyembelih Ego dalam Diri
Hakikat paling utama dari Idul Adha tak lain ialah pengorbanan. Foto: MI/Djoko Sadjono

BANYAK hikmah yang bisa kita dapatkan dari Hari Raya Idul Adha. Jika kita mencerna spirit dari ritual pengurbanan Ismail oleh sang ayah, Ibrahim ketika itu, di sana terpotret adanya kepatuhan, ketulusan, serta keikhlasan yang semuanya berlevel luar biasa.

Namun, hakikat paling utama dari Idul Adha tak lain ialah pengorbanan, kerelaan untuk berkorban. Ini tentu tak cukup hanya dengan simbolisme menyembelih hewan kurban dan membagi-bagikan dagingnya kepada fakir miskin, kepada sesama yang membutuhkan.

Dalam konteks yang lebih luas, berkurban ialah kesediaan untuk mengerem syahwat kerakusan dan menghilangkan nafsu keserakahan. Dengan kata lain, Idul Qurban mesti dimaknai dengan kesediaan untuk mengorbankan semua ego diri demi kepentingan yang jauh lebih besar. Kurban seharusnya juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk menyembelih juga sifat hewani dalam diri kita.

Makna ini sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Kini di hampir semua lini kehidupan, egosentrisme pribadi atau kelompok terlihat lebih menonjol. Motif kekuasaan dan penumpukan kekayaan seperti teramat menjiwai gerak sebagian anak bangsa yang sudah lupa arti pengorbanan. Cara-cara kotor pun mereka halalkan demi menggapai keinginan dan memenuhi ego.

Fenomena Saracen belakangan ini kian menguatkan argumen itu. Tak terpikir oleh akal sehat bagaimana berita bohong (hoaks) dan ujaran-ujaran untuk menebar kebencian mereka fabrikasi secara besar-besaran demi mencapai tujuan akhir mereka dari sisi bisnis maupun politis.

Begitu pula dengan fenomena tak berkesudahannya kasus-kasus korupsi baru yang terus bermunculan. Egosentrisme yang berpadu dengan hedonisme dan materialisme menjadi semacam kekuatan baru yang sulit dibendung. Korupsi, kolusi, penumpukan kekayaan adalah fenomena yang terlahir dari dominasi tata nilai seperti itu.

Semua itu seolah mengonfirmasi bahwa hal-hal yang menyangkut pengorbanan kini telah banyak digantikan oleh spirit mengabdi kepada motif mendapatkan keuntungan setinggi-tingginya. Banyak persoalan bangsa saat ini muncul akibat lemahnya semangat untuk berkorban bagi orang lain, spirit untuk berkorban bagi sesama.

Karena itu, tidak bisa tidak, persoalan bangsa ini juga mesti diselesaikan dengan memupuk sebanyak-banyaknya spirit pengorbanan. Jika Republik ini tak ingin terus berkubang dalam lumpur egosentrisme dangkal yang terbukti telah melahirkan penyakit-penyakit sosial,  seperti kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, dan ketertindasan, inilah saatnya kita berubah.

Momentum Idul Adha sangat pas dan relevan untuk kembali mengingatkan hal itu. Ketika berbagai peristiwa dan fenomena menyedihkan tadi kian menjauhkan individu dari ikatan-ikatan sosial, Idul Adha datang dengan menyandang spirit untuk menautkan kembali ikatan-ikatan yang telah terlepas itu.

Sekali lagi, Idul Adha ialah pengingat yang mesti dimaksimalkan untuk menghilangkan, menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang masih bersemayam dalam diri kita. Tak mudah, memang, tetapi bisa dilakukan selama spirit rela berkorban terus digelorakan.

Selamat Idul Adha 1438 H


(SUR)