Sang Penyemai Damai

   •    Jumat, 17 Mar 2017 07:37 WIB
hasyim muzadi
Sang Penyemai Damai
Sang Penyemai Damai

Selalu ada mutiara di lautan keruh. Kemarin bangsa ini kehilangan KH Hasyim Muzadi, tokoh bangsa sekaligus ulama yang selalu tekun merawat kebangsaan dengan ilmu dan keulamaan yang ia miliki.

Tak disangkal Kyai Hasyim ialah salah satu ulama yang mampu hadir seperti mutiara di tengah lautan masalah bangsa ini, terutama yang terkait dengan kebinekaan dan keberagaman.

Kiai Hasyim, setidaknya menurut orang-orang dekatnya, selalu menekankan untuk membawa Islam sebagai agama penyemai damai dan penyemai kasih. Menampilkan wajah Islam yang teduh dan damai senantiasa ia serukan, utamanya ketika belakangan ini pandangan terhadap Islam sedikit berbelok karena perilaku sebagian elite dan umatnya.

Hingga hari-hari terakhirnya di tengah kondisi sakit pun, energi mantan Ketua Umum PBNU itu seperti tak pernah habis untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian, antiradikalisme, antikekerasan. Ia konsisten, istikamah, mengajak umat berpegang pada Islam sebagai rahmatan lil alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta.

Ada ungkapan menarik yang dilontarkan Hasyim yang meneguhkan sikap dan pandangannya itu, yakni "Jadilah orang Indonesia yang beragama Islam, jangan jadi orang Islam yang berada di Indonesia." Dalam konteks saat ini, ungkapan itu betul-betul pas untuk mengingatkan sebagian orang yang kini justru kerap menonjolkan jubah agama secara berlebihan dan mengesampingkan eksistensi negara.

Karena itu, sudah sepantasnya Indonesia patut berterima kasih kepada Hasyim Muzadi yang tak kenal lelah merawat keseimbangan antara keislaman dan keindonesiaan. Sungguh, bangsa ini betul-betul beruntung memiliki Kiai Hasyim yang selalu menjaga harmoni hubungan antara negara dan agama.

Harmoni itu dapat ia pertahankan karena teguh mengartikulasikan kultur NU yang mengajarkan empat konsep persaudaraan: ukhuwah islamiah (persaudaraan sesama umat Islam); ukhuwah wathoniah (persaudaraan kebangsaan); ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia); dan ukuwah nahdiyah (persaudaraan sesama warga NU).

Lantas, ketika kini Kiai Hasyim berpulang, mestikah kita berputus asa karena lagi-lagi harus ditinggal sosok yang amat patut kita jadikan anutan dan teladan? Apakah berpulangnya tokoh yang meski dilabeli ulama besar dan pernah memimpin organisasi sebesar NU, tapi tetap teduh, sejuk, dan membumi itu mesti membuat kita kehilangan harapan terhadap masa depan Republik ini?

Tegas kita katakan, tidak. Dian harapan mesti tetap dinyalakan meskipun apa yang diperjuangkan Hasyim dengan pemikiran dan sikapnya selama ini mungkin masih jauh dari yang dicita-citakan. Asa pantang dimatikan karena sesungguhnya kepergian pendiri dan pengasuh Pesantren Al Hikam, Depok, itu bisa dimaknai sebagai momentum untuk mengukuhkan pilar-pilar persatuan bangsa yang ia bangun selama ini.

Sungguh, kita sangat kehilangan ketika Kiai Hasyim berpulang. Harus diakui pula, tak gampang menemukan orang yang punya jangkauan pandangan serta integritas yang sama dengan Hasyim Muzadi.

Namun, selalu ada mutiara di laut keruh. Kita harus yakin karena kita butuh lebih banyak mutiara lain, tokoh-tokoh penyejuk, serta ulama-ulama berpandangan lurus yang akan membawa negara ini keluar dari masalah-masalah yang mendera.