Antisipasi Bencana

   •    Rabu, 08 Aug 2018 07:29 WIB
Antisipasi Bencana
Antisipasi Bencana

BENCANA dan anugerah kerap menjadi dua sisi mata uang dari keunikan alam. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari terjadinya bencana. Satu di antara pelajaran yang paling penting ialah mencegah agar bencana serupa tak terulang, atau setidaknya meminimalkan potensi dampak bencana tersebut.

Ketika bencana datang, masyarakat, pemerintah baik setempat maupun pusat, wakil rakyat, juga perusahaan baik swasta maupun BUMN serentak bergerak membantu memulihkan keadaan. Bantuan mengalir dari berbagai sumber yang didorong rasa simpati dan empati terhadap para korban bencana.

Demikian pula saat Lombok diguncang gempa besar untuk kedua kalinya, Minggu (5/8), atau hanya dalam tempo sepekan dari gempa pertama yang menggetarkan Lombok pada 29 Juli lalu. Solidaritas terhadap korban bencana tidak diragukan lagi. Akan tetapi, sungguh menyedihkan, sekitar 100 jiwa telah melayang sebagai korban gempa.

Untuk kesekian kalinya, gempa melanda negeri ini dan untuk kesekian kalinya pula banyak korban jiwa berjatuhan. Bukti bahwa bangsa ini tampaknya masih sulit memetik pelajaran. Masih lekat dalam ingatan gempa dahsyat yang disertai tsunami hingga merenggut lebih dari 120 ribu jiwa di Aceh pada 26 Desember 2004.

Pun, gempa 6,3 pada skala Richter yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Tidak kurang dari 5.000 jiwa menjadi korban dan sebagian besar karena tertimpa reruntuhan bangunan. Di 2016, Aceh, tepatnya Pidie Jaya, porak-poranda oleh gempa. Seratus lebih nyawa hilang akibat hantaman puing. Bak kaset kusut, itu terulang saat gempa mengguncang Lombok.

Dalam hal menekan dampak tsunami, pascatsunami Aceh, alat-alat peringatan dini telah disebar dan dipasang di dekat pantai-pantai yang dinilai rawan. Namun, banyak di antara alat tersebut yang kini telah rusak akibat tidak terawat. Untuk merawat ataupun mengganti dengan yang baru, lagi-lagi keterbatasan dana menjadi alasan.

Lalu bagaimana dengan penggunaan hunian dan bangunan tahan gempa? Tidak sedikit pakar yang telah merekomendasikan. Metode dan struktur bangunan tahan gempa juga sudah bukan hal yang asing di dunia. Pihak berwenang pun merencanakan pembangunannya di lokasi-lokasi yang terdampak ataupun yang rawan gempa. Seakan lupa ingatan, ujung-ujungnya hampir seluruhnya berakhir hanya sampai pada rencana.

Posisi wilayah Indonesia yang berada di kawasan cincin api Pasifik membuat negeri ini selalu dalam bahaya yang disebabkan gempa. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat juga telah memetakan wilayah rawan gempa dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa 2017. Alangkah baiknya bila itu segera diinterpretasikan dalam pengetatan regulasi bangunan.

Peta wilayah rawan gempa itu semestinya dapat menjadi 'pagar' dari dampak buruk bencana alam. Korban jiwa dapat dihindari jika saja pemda menggunakan data-data itu sebagai acuan untuk penataan ruang. Pada daerah dengan tingkat kerawanan bencana sangat tinggi, relokasi seharusnya menjadi solusi di awal untuk menghindari nyawa melayang.

Semestinya, tidak ada lagi bangunan baru, termasuk hunian, yang dibangun tanpa memiliki struktur tahan gempa. Terhadap bangunan lama, inspeksi yang ketat dan kerap mesti dijalankan untuk memastikan 'kesehatan' struktur bangunan.

Bila tanpa gempa saja lantai Gedung Bursa Efek Indonesia bisa ambrol, apa jadinya jika bencana itu mengguncang Jakarta? Sungguh malu jadi bangsa yang tidak mampu belajar dari pengalaman untuk bisa hidup harmonis dengan bencana.