Jangan Lagi Diam Mulailah Bicara

   •    Rabu, 11 Jan 2017 08:18 WIB
Jangan Lagi Diam Mulailah Bicara
Jangan Lagi Diam Mulailah Bicara

MUDAH sekali menandai masyarakat toleran dan intoleran. Masyarakat toleran senantiasa mengedepankan pertimbangan akal sehat dan hati dingin dalam menyelesaikan segala persoalan. Ada ruang yang terbuka lebar untuk berdialog dan beradu argumentasi. Sebaliknya, dialog dan argumentasi seakan tertutup rapat-rapat dalam masyarakat intoleran. Ada monopoli kebenaran, bahkan tak segan-segan untuk memaksakan kebenarannya melalui pengerahan massa besar-besaran.

Harus jujur dikatakan bahwa masyarakat toleran masih menjadi mayoritas di negeri ini. Akan tetapi, jujur pula diakui bahwa ruang publik kini mulai dimonopoli kaum intoleran yang jumlahnya tidak seberapa banyak tapi berisik luar biasa. Bisa jadi, kaum intoleran semakin berani berulah di negeri ini karena sebagian besar masyarakat memilih bungkam. Hidup berdampingan terusik bukan karena banyaknya orang intoleran, melainkan karena orang-orang baik suka berpangku tangan.

Itulah muasal narasi penonjolan politik identitas yang memicu memudarnya penghargaan pada kebinekaan. Saatnya orang-orang baik yang menjadi mayoritas di negeri ini untuk turun tangan. Jangan berdiam diri lagi jika tidak ingin kaum intoleran menguasai ruang publik.

Dalam perspektif itulah, kita menyambut baik ajakan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri saat menyampaikan pidato politik dalam perayaan HUT ke-44 partai yang dipimpinnya itu, kemarin. Dalam perayaan yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla, Megawati mengatakan sudah saatnya mayoritas diam atau silent majority bersuara dan menggalang kekuatan bersama.

PDIP adalah pemenang Pemilu 2014 yang selama ini ikut-ikutan hanyut dalam zona nyaman silent majority. Pernyataan politik PDIP yang biasanya bernas dan tajam nyaris tak terdengar pada saat kaum intoleran berisik. Ajakan Megawati agar silent majority bersuara dan menggalang kekuataan bersama kiranya tepat momentum kendati ada pula yang menilainya sudah terlambat. Bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Menggalang kekuatan bersama menjadi kata kuncinya dan PDIP harus tampil sebagai lokomotifnya. PDIP melalui fraksi mereka di DPR bisa mengajak semua kekuatan politik lainnya untuk segera melahirkan regulasi yang membatasi ruang gerak kaum intoleran. Ini yang disebut sebagai langkah politik. PDIP mestinya merawat politik akal sehat yang selama ini masuk ruang gawat darurat.

Langkah taktis lainnya juga perlu dilakukan. PDIP bisa mengajak organisasi kemasyarakatan, dalam hal ini NU dan Muhammadiyah, untuk bersama-sama merawat kebinekaan dan toleransi. Bersama-sama melawan kekerasan atas nama agama, sama-sama menolak radikalisme dan terorisme. Tegas dikatakan bahwa NU dan Muhammadiyah juga bagian dari silent majority yang perlu bersuara. Kedua organisasi keagamaan itu diharapkan mampu menumbuhkan kultur keagamaan sipil.

Kultur keagamaan yang tidak mengancam dan tidak menindas kelompok minoritas. Hanya langkah taktis itulah yang bisa mewujudkan penegasan Bung Karno yang dikutip Megawati dalam pidatonya, "Kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab. Kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya ini."