Negeri Maritim Sebenar-benarnya

   •    Jumat, 22 Dec 2017 07:56 WIB
industri maritimjokowi-jk
Negeri Maritim Sebenar-benarnya
Negeri Maritim Sebenar-benarnya

Indonesia dengan karunia maritim yang luar biasa mestinya tidak melulu dikelola dengan mindset daratan. Kesadaran itu baru muncul dalam tiga tahun terakhir bersamaan dengan program tol laut yang digagas Presiden Joko Widodo. Harus jujur diakui bahwa terlalu lama bangsa ini terlena dalam pembangunan dengan mindset daratan.

Selama itu pula laut dengan potensi kekayaan yang sangat besar malah dipunggungi. Sejak Presiden Jokowi menggagas pembangunan tol laut, baru muncul kesadaran bahwa wilayah perairan Indonesia kaya dengan potensi cadangan energi, perikanan, dan pariwisata bahari.

Demikian pula dengan jalur pelayaran strategis yang dapat dimanfaatkan sebagai basis pengembangan kekuatan geopolitik, ekonomi, dan budaya bahari. Meski belum berjalan optimal, seperti terungkap dalam diskusi kelompok terfokus Media Group, Selasa (19/12), pembangunan tol laut mulai memperlihatkan manfaat.

Manfaat itu antara lain terciptanya konektivitas dan semakin mengecilnya disparitas harga antara Indonesia bagian timur dan barat. Contoh paling nyata ialah saat ini tidak ada perbedaan harga premium di Jawa dan Papua. Tidak hanya itu. Dampak lainnya ialah sudah ada perbaikan dari sektor kelautan.

Sebelumnya, produk domestik bruto (PDB) Indonesia dari sektor kelautan hanya 18,6%, sedangkan saat ini kontribusi sektor itu sudah mendekati 22%. Sejauh ini sudah ada 13 trayek tol laut yang beroperasi. Dampaknya langsung dirasakan masyarakat, ada penurunan harga kebutuhan pokok di kawasan timur Indonesia.

Di Larantuka, Flores Timur, umpamanya, harga bahan pokok sudah turun 17%. Ironisnya, meski proyek tol laut sudah membawa manfaat yang langsung dirasakan masyarakat, pemerintah daerah sepertinya masih gagu. Disebut gagu karena inisiatif pemerintah daerah, khususnya kawasan timur Indonesia, dalam menyambut tol laut dengan memproduksi hasil-hasil keunggulan daerah, diversifikasi produk, dan ekspansi ke luar daerah belum optimal.

Ketidaksiapan pemerintah daerah di timur Indonesia itu bisa dilihat dari fakta bahwa rata-rata load factor bagus dari barat ke timur, bahkan ada yang 119%. Masalahnya ketika kapal balik, itu kosong. Load factor rata-rata 20%, yang diangkut hanya ikan dan garam. Tegas dikatakan bahwa Indonesia Timur sangat membutuhkan kepala daerah yang visioner dan kreatif untuk memanfaatkan program tol laut.

Bukan pemimpin yang cuma ongkang-ongkang kaki, kaya gagasan tapi miskin penerapan. Indonesia Timur sangat membutuhkan kepala daerah yang bisa menggerakkan revitalisasi pelayaran rakyat dan mampu mengembangkan industri berbasis komoditas wilayah. Tidak kalah penting ialah pemimpin yang memiliki visi besar terkait dengan pariwisata.

Selain distribusi barang, tol laut mempermudah para wisatawan domestik dan mancanegara berkunjung ke timur Indonesia. Tol laut pada hakikatnya sebuah koreksi atas pembangunan yang ber-mindset daratan selama ini. Sudah terlalu lama kita memunggungi laut, saatnya ia menjadi beranda negeri.

Pembangunan tol laut bukan sekadar mengingatkan bahwa 2/3 wilayah Indonesia adalah laut. Jauh lebih penting lagi ialah itu mengembalikan memori kolektif bahwa nenek moyang kita adalah pelaut. Tol laut membuka kembali jalan menuju negeri maritim sebenar-benarnya, bukan seolah-olah negeri maritim.




KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

KPK Setorkan Rp2,286 Miliar ke Kas Negara

1 week Ago

Uang berasal dari uang pengganti terpidana kasus korupsi proyek KTP-el Andi Agustinus alias And…

BERITA LAINNYA