Eksekusi Mati Terakhir

   •    Selasa, 06 Mar 2018 07:41 WIB
eksekusi mati
Eksekusi Mati Terakhir
Eksekusi Mati Terakhir

PENANGKAPAN atas penyelundupan berton-ton narkoba menyadarkan bahwa Indonesia masih tetap menjadi pasar empuk bagi peredaran barang haram itu.

Bulan lalu, aparat gabungan berhasil mengungkap penyelundupan 2,6 ton narkoba. Sungguh memprihatinkan.

Padahal hukuman maksimal telah diterapkan penegak hukum kepada para bandar narkoba.

Tiga jilid proses eksekusi mati terhadap terpidana mati kasus narkoba telah dilakukan pemerintahan Jokowi-JK.

Berulangnya kasus penyelundupan narkoba di negeri ini seakan memperlihatkan para bandar narkoba tidak takut mati, tak gentar terhadap hukuman mati.

Namun, Jaksa Agung M Prasetyo justru kembali menggaungkan eksekusi mati jilid empat.

Tersirat kesan bahwa kembali maraknya penyelundupan narkoba bisa jadi karena tertundanya eksekusi bagi para terpidana mati kasus narkoba.

Apalagi peredaran narkoba itu ada kaitan dengan jaringan yang sekarang sedang menghuni lembaga pemasyarakatan (LP).

Berulangnya upaya penyelundupan narkoba menjadi bukti empiris bahwa tidak ada korelasi positif antara hukuman mati dan efek jera para bandar narkoba.

Dengan perkataan lain, hukuman mati tak mengurangi apalagi menghapus kejahatan narkoba.

Mereka yang terjun dalam bisnis haram narkoba bukanlah orang-orang yang takut mati.

Mereka sadar sesadar-sadarnya bahwa nyawa menjadi taruhan dalam bisnis ilegal narkoba.

Itulah sebabnya mereka tak gentar menghadapi hukuman mati.

Hukuman mati tak kuasa menjerakan mereka.

Bandar narkoba justru orang-orang yang takut hidup.

Mereka takut hidup susah sehingga mereka berani mengambil risiko terjun ke bisnis narkoba yang menggiurkan. Risiko itu termasuk mati.

Itulah sebabnya mereka tak takut mati, tak gentar hukuman mati.

Bahkan sejumlah terpidana mati tetap leluasa mengendalikan bisnis narkoba dari balik penjara.

Ada di antara mereka yang malah melakukan kejahatan lain, yakni pencucian uang hasil bisnis narkoba.

Badan Narkotika Nasional dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan baru-baru ini mengungkap pencucian uang Rp6,4 triliun yang diduga dilakukan terpidana mati kasus narkoba.

Sekali lagi kita katakan hukuman mati tidak mengurangi tingkat kejahatan narkoba.

Untuk apa lagi menerapkan hukuman mati kepada penjahat narkoba? Banyak orang menganggap hukuman mati tidak beradab dan bertentangan dengan hak asasi manusia.

Banyak negara melakukan moratorium atau menghapus hukuman mati.

Dewasa ini tercatat 140 negara melakukan moratorium atau menghapus hukuman mati.

Di masa mendatang, kita perkirakan makin banyak negara yang menghapus hukuman mati.

Sebagai gantinya, negara-negara tersebut memberlakukan hukuman sangat berat kepada pelaku kejahatan tertentu, termasuk narkoba.

Negara-negara itu memberlakukan hukuman penjara seumur hidup atau penjara berpuluh-puluh tahun disertai hukuman denda atau kerja sosial.

Kita berharap Indonesia menambah panjang daftar negara yang menghapus hukuman mati.

Kita berharap eksekusi jilid keempat terhadap terpidana mati kasus narkoba merupakan eksekusi mati terakhir.

Sudah saatnya negara menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku kejahatan luar biasa, termasuk narkoba, bukan hukuman mati yang tak beradab dan tak menjerakan itu.