Mengamini Amien Mencapres

   •    Kamis, 14 Jun 2018 08:08 WIB
Mengamini Amien Mencapres
Mengamini Amien Mencapres

Di tengah gegap gempita mudik, perhatian publik teralihkan pada kabar Amien Rais yang bertekad maju menjadi calon presiden. Semakin dekat pilpres, rupanya semakin ramai pula ingar-bingar kontestasi meski hajatan besar itu masih sekitar sembilan bulan lagi berlangsung.

Amien Rais bukanlah sosok kemarin sore di jagat perpolitikan Indonesia. Amien ialah politikus kawakan dengan usia yang tak lagi muda, bahkan terbilang sudah sepuh, yakni 74 tahun. Pengalaman Amien berderet, mulai sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, salah satu motor reformasi 1998, Ketua Umum Partai Amanat Nasional, Ketua MPR, hingga kini menjabat Ketua Dewan Kehormartan PAN.

Amien Rais juga dikenal sebagai king maker yang sukses menjadikan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden RI. Sebaliknya, sebagai pemain, dia akrab dengan kekalahan. Saat bertarung di Pilpres 2004, Amien yang berpasangan dengan Siswono Yudo Husodo cuma meraih 14,66% suara dan langsung rontok di putaran pertama.

Namun, Amien bukan tipe orang yang gampang menerima kenyataan. Dengan beragam alasan, termasuk terinspirasi dengan keberhasilan Mahathir Mohammad kembali menjadi PM Malaysia, dia hendak menjungkirbalikkan kenangan pahit 14 tahun silam itu.

Dengan penuh percaya diri, Amien bersemangat mencalonkan diri sebagai capres di Pilpres 2019. Dia bahkan terang-terangan menantang Jokowi duel secara jantan dalam koridor demokrasi untuk memperebutkan kursi RI-1.

Salahkah Amien? Tentu tidak. Ambil bagian dalam rivalitas pemilu ataupun pilpres merupakan hak setiap warga selama hak itu tidak dicabut. Artinya, sah-sah saja jika Amien ingin bersaing untuk menjadi presiden. Soal apakah ia punya perahu koalisi partai politik untuk pencalonan, itu urusan lain.

Berlebihankah hasrat Amien untuk mencapres? Juga tidak. Dia punya cukup banyak modal untuk bertarung. Presiden Jokowi yang juga akan mencapreskan diri lagi pun mengakui kehebatan seorang Amien Rais. "Rekam jejak beliau saya kira tak ada yang meragukan. Saya kira sangat bagus untuk memberikan alternatif pilihan dalam rangka pilpres ke depan. Saya kira ini sangat bagus," ujar Presiden Jokowi dua hari lalu.

Betul bahwa keinginan Amien kembali mencapreskan diri dipersoalkan banyak kalangan. Ada yang mendukung langkah dia, tapi tidak sedikit yang bersikap nyinyir. Banyak pula yang menganggap dalih Amien bahwa dia terinspirasi oleh keberhasilan Mahathir mengada-ada.

Namun, sekali lagi, memilih dan dipilih dalam hajatan demokrasi ialah hak setiap warga selama hak politik itu masih melekat. Tidak ada yang bisa melarang Amien untuk menjadi capres selama dia menginginkannya dan partai-partai mendukungnya. Soal bisa-tidaknya dia menjadi capres, soal apakah nanti menang atau lagi-lagi menjadi pecundang, itu urusan lain.

Keinginan Amien Rais menjadi capres patut didukung karena akan kian menyemarakkan pilpres tahun depan. Apalagi jika nantinya ada koalisi partai politik sebagai poros ketiga yang mau mewadahi keinginan itu, demokrasi akan semakin bergairah. Dengan tiga kandidat, termasuk Jokowi dan Prabowo Subianto, rakyat pun punya lebih banyak opsi untuk menjatuhkan pilihan.

Pencalonan Amien juga lebih bagus ketimbang dia terus saja sibuk mencela kebijakan dan kepemimpinan Jokowi, seakan-akan pemerintahan ini tidak ada bagusnya sama sekali. Lebih bagus nyapres daripada nyinyir. Fakta akan berbicara apakah dengan rekam jejak dan sepak terjangnya selama ini dia mampu menyakinkan partai-partai politik untuk mengusungnya.

Pun jika Amien akhirnya mendapat tiket ke Pilpres 2019, biarkan rakyat yang menentukan apakah dia memang layak dipercaya untuk memimpin negeri ini. Atau sebaliknya, Amien yang kondang dengan kenyinyirannya terhadap pemerintahan Jokowi ternyata tak punya tempat di hati rakyat.


Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

Fredrich Menduga Majelis Hakim tak Adil

1 day Ago

Fredrich menyesalkan sikap JPU KPK yang dinilai sengaja tidak mau menghadirkan sejumlah saksi k…

BERITA LAINNYA