Natal yang Membebaskan

   •    Senin, 25 Dec 2017 08:54 WIB
misa natalnatal
Natal yang Membebaskan
Natal yang Membebaskan

SETIAP kelahiran senantiasa menerbitkan harapan. Bahkan kelahiran orang-orang besar dalam sejarah umat manusia bukan cuma melahirkan harapan, melainkan optimisme.

Begitulah, kelahiran Yesus Kristus menghadirkan optimisme, juga keyakinan. Umat optimistis Yesus membebaskan mereka dari belenggu ketakutan akan dosa, penyakit, serta kekuasaan. Umat yakin Yesus membebaskan mereka supaya tercapai keselamatan, kedamaian, serta kesejahteraan. Itulah sebabnya Yesus disebut Sang Juru Selamat.

Perayaan kelahiran Yesus di Indonesia tahun ini bertemakan 'Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu.' Peringatan kelahiran Yesus hari ini seperti menerbitkan kembali optimisme dan keyakinan bahwa Yesus membebaskan manusia dari ketakutan demi terwujudnya kedamaian dan kesejahteraan.

Dalam tema itu, Yesus memerintah. Itu artinya kitalah yang kini mesti bergerak meneruskan misi Yesus menghadirkan keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan.

Misi itu bersifat universal. Bahkan negara kita dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menegaskan misi tersebut. Para pahlawan dan tokoh pergerakan bersama segenap rakyat telah membebaskan kita dari ketakutan akan belenggu kekuasaan penjajah, dan berbekal kemerdekaan itu negara berkewajiban mewujudkan kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan.

Dalam Natal tahun ini, negara melalui Polri telah membebaskan perayaan Natal dari ketakutan akan sweeping atribut Natal oleh kelompok tertentu. Majelis Ulama Indonesia pun mengecam bila sweeping semacam itu terjadi. Bisa dikatakan Natal tahun ini merdeka dari sweeping bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Pemerintah Provinsi DKI pun akhirnya membebaskan umat Kristiani merayakan Natal di tempat tertutup. Awalnya Gubernur DKI Anies Baswedan berkehendak Natal diselenggarakan di tempat terbuka, yakni Monas.

Anies mengurungkan kehendaknya karena sebagian umat Kristiani menolaknya. Sebagian umat Kristiani menilai perayaan Natal di Monas bersifat politis sehingga mereka menolaknya.

Batalnya perayaan Natal di Monas menunjukkan umat Kristiani telah membebaskan diri mereka dari kehendak atau kekuasaan politik. Sesuatu yang, bila benar politis, biasanya penuh kepura-puraan, tidak natural, jauh dari tulus, sehingga layak ditolak.

Kehendak atau kekuasaan politik hanya melahirkan mobilisasi. Mobilisasi, apalagi yang berbau politik, mengandung pemaksaan dan keterpaksaan, bukan kebebasan dan kemerdekaan, dan karenanya, sekali lagi, pantas ditolak.

Sebaliknya, kebebasan dan kemerdekaan melahirkan partisipasi. Partisipasi mengandung kesukarelaan, bukan kepura-puraan dan keterpaksaan. Partisipasi adalah pembebasan.

Dalam perayaan Natal kita biasanya menyaksikan partisipasi luar biasa, terutama dari kalangan penganut agama lain. Yang paling sering disebut ialah bagaimana setiap tahun organisasi kemasyarakatan Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama menjaga keamanan perayaan Natal. Menjelang peringatan Natal tahun ini, disebutkan Remaja Masjid Al-Hidayah di Kampung Buton, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), berpartisipasi merangkai pohon Natal.

Partisipasi dalam perayaan Natal kelak mendatangkan toleransi, kesejukan dan kedamaian. Hanya dalam suasana yang toleran, sejuk, dan damai, kita bisa bergerak mencapai keadilan dan kesejahteraan.

Selamat merayakan Natal. Selamat merayakan pembebasan.




KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

KPK Diam-diam Sudah Periksa Ajudan Novanto

1 day Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diam-diam sudah memeriksa ajudan Setya Novanto, AKP Reza Pah…

BERITA LAINNYA