Bercanda Berujung Pidana

   •    Kamis, 31 May 2018 07:32 WIB
Bercanda Berujung Pidana
Editorial Media Indonesia

CANDAAN tentang adanya bom di pesawat kian gampang dilontarkan. Padahal lelucon yang tak lucu itu selalu berimbas pada kerugian penumpang ataupun maskapai penerbangan sehingga semestinya tak dilakukan.

Bercanda atau bergurau memang dibutuhkan demi merelaksasi diri agar hati lapang sehingga hidup tidak selalu tegang. Namun, bukan berarti bercanda boleh kebablasan. Meski dimaksudkan untuk mencairkan suasana atau membuat orang tertawa, ia tak bisa dikemukakan seenaknya tanpa melihat waktu dan tempat yang tepat.

Ada rambu-rambu yang membatasi agar bercanda tak malah berbalik menjadi petaka. Rambu-rambu itulah yang belakangan dengan mudah dilanggar sebagian orang. Mereka tipis bibir untuk membuat guyonan dengan mengaku membawa atau mengatakan ada bom di pesawat yang ditumpangi.

Tidak cuma satu atau dua, tapi cukup banyak orang, yang bercanda seperti itu. Ia telah menjadi fenomena yang seolah-olah merupakan perbuatan biasa. Untuk bulan ini saja, setidaknya ada sembilan kali kejadian penumpang melucu dengan menyebut ada bom di pesawat. Tak cuma di dalam negeri, bercanda dengan mengatakan ada bom di pesawat juga cukup sering terjadi di mancanegara. Ironisnya, tak hanya rakyat biasa, ada pula kalangan terhormat yang dengan entengnya membuat lelucon yang menakutkan itu.

Sebut saja dua anggota DPRD Banyuwangi yang bercanda membawa bom saat akan terbang ke Jakarta dengan pesawat Garuda Indonesia pada Rabu (23/5) lalu.

Entah siapa pun pelakunya, candaan tentang bom palsu atau bomb joke di pesawat punya dampak yang sama. Ia sama-sama memicu ketakutan, kepanikan, dan kekacauan. Ia sama-sama pula menyebabkan kerugian materiel maupun imateriel, baik bagi penumpang maupun maskapai penerbangan.

Kepanikan luar biasa terpampang gamblang lewat rekaman video yang viral akibat seorang penumpang Lion Air JT687 [2] rute Pontianak-Jakarta, Frantinus Sigiri, mengaku membawa bom. Guyonan itu membuat penumpang kalut lalu membuka pintu darurat dan keluar ke sayap pesawat.

Saking paniknya, beberapa penumpang nekat melompat turun. Frantinus yang telah ditetapkan sebagai tersangka dan juga para pelaku lain tentu hanya berpura-pura. Mereka tidak benar-benar membawa atau mengetahui ada bom di pesawat terbang. Namun, mereka minim nalar bahwa candaan yang dilontarkan dapat berakibat fatal.

Lelucon soal adanya bom di pesawat sekilas memang sepele. Akan tetapi, ia sebenarnya persoalan serius, sangat serius. Ia telah menjadi teror tersendiri terhadap kenyamanan dan ketenangan publik, khususnya para pengguna layanan penerbangan.

Lelucon itu semakin tidak lucu lantaran bangsa ini masih dalam suasana ekstra waspada pascaaksi teror bom betulan yang dilakukan teroris benaran. Kenapa orang masih saja gampang melucu soal bom? Bisa jadi, karena minimnya sosialisasi, mereka tak paham bahwa perbuatan seperti itu merupakan pelanggaran hukum.

Padahal, UU No 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan menggariskan bahwa setiap orang yang menyampaikan informasi palsu yang membahayakan keselamatan penerbangan bisa dipidana hingga 15 tahun penjara. Yang tak kalah penting, negara harus tegas menerapkan hukum.

Harus kita katakan, selama ini aparat lembek dan cenderung kompromistis dalam menangani perkara bom palsu di pesawat. Begitu banyak perkara yang ditangani, tapi nyaris tak ada pelaku yang diadili. Kasus gurauan bom palsu kerap dihentikan sebelum sampai ke kejaksaan atau pengadilan ketika pelaku telah meminta maaf.

Kita menunggu realisasi janji Polri untuk tidak menoleransi siapa pun yang bergurau soal bom di pesawat. Negara memang harus memastikan bahwa bercanda seperti itu bakal berujung pidana sehingga publik akan berpikir sejuta kali sebelum melakukannya.