Kearifan Lokal Ketahanan Bencana

   •    Jumat, 29 Sep 2017 07:56 WIB
Kearifan Lokal Ketahanan Bencana
Kearifan Lokal Ketahanan Bencana

Bencana alam memang bukan penghancur kehidupan. Telah banyak terlihat, bencana justru memunculkan kekuatan. Meski ada tangisan, kekaguman malah jauh lebih besar. Kondisi itu terjadi saat orang yang dalam keprihatinan menolak untuk terpuruk. Alih-alih mengandalkan bantuan, mereka bergotong royong membangkitkan daya sendiri.

Kekuatan kehidupan itulah yang sekarang ada di Bali. Kesiagaan menghadapi bencana bukan hanya ada di empat kecamatan yang berada di wilayah terdampak oleh erupsi Gunung Agung. Di wilayah lainnya, masyarakat ikut merasa sepenanggungan. Bahkan anak-anak sekolah menengah menyisihkan uang jajan harian demi berdonasi untuk makanan anak-anak pengungsi.

Warga lainnya di titik-titik penampungan pengungsian merelakan rumah dan lahan untuk dijadikan tempat penampungan. Ada pula warga yang mengumumkan melalui media sosial, mempersilakan pengungsi memanfaatkan sayur di kebun mereka. Kebersamaan itu pula yang ada dalam sistem penanggulangan bencana yang diterapkan pemerintah provinsi.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menjelaskan pihaknya menggunakan konsep desa kembar (sister village). Sistem itu berarti desa-desa yang aman menjadi penerima warga dari desa yang berbahaya. Mulusnya solidaritas warga Bali juga bukti nyata terawatnya budaya solidaritas menyama braya (persaudaraan).

Ajaran nenek moyang itu mengandung makna semua kelompok ialah saudara. Dalam kondisi keprihatinan pun, mereka yang menjadi korban bukan dipandang sebagai orang lain yang mengungsi, melainkan saudara yang sedang dalam ujian. Dijaganya solidaritas itu pula yang tampak membentuk proses pengungsian.

Meski ada beberapa kelompok masyarakat yang awalnya enggan mengungsi, lebih banyak warga yang bergerak mengungsi mandiri. Langkah mereka diperingan dengan penerimaan terbuka dari warga di titik-titik pengungsian. Di lokasi-lokasi tersebut juga dapat kita lihat bahwa bantuan bukanlah sekadar memberikan materi, melainkan berbungkus semangat dan kehangatan.

Bantuan seperti itulah yang bisa melampaui segala nilai materi. Bantuan yang tidak seberapa pun dapat berdampak karena disertai penghargaan dan kebersamaan. Dengan semangat itu pula, kita dapat yakin kehidupan pengungsi yang kini telah mencapai lebih dari 100 ribu orang dapat segera pulih setelah bencana terlewati.

Di sisi lain, solidaritas nyata itu pula yang menegaskan kebohongan tentang protes bantuan dari masyarakat. Artikel-artikel menampilkan masyarakat Bali sebagai penuntut bantuan sesungguhnya merupakan pencemaran akan budaya luhur mereka. Sebaliknya, kekuatan masyarakat Bali selayaknya menjadi contoh bangsa.

Di samping pengelolaan bantuan yang baik dari pemerintah, solidaritas sosial semestinya dibangkitkan. Pemerintah dan jajaran yang berwenang juga tidak boleh diam terhadap pihak-pihak nakal yang mencari keuntungan. Pengumpulan sumbangan liar semestinya segera dihentikan.

Sebaliknya, semangat masyarakat dalam berdonasi patut diberikan wadah sehingga dapat tersalurkan dengan benar. Menyama braya sesungguhnya kearifan lokal yang memanusiakan manusia