Berhenti Bersiasat di Masa Tenang

   •    Senin, 13 Feb 2017 08:12 WIB
pilkada serentak
Berhenti Bersiasat di Masa Tenang
Editorial Media Indonesia

MASA tenang bisa dikatakan sebagai masa paling rawan dalam perhelatan pemilihan umum, termasuk pemilihan umum kepala daerah serentak 15 Februari 2017. Disebut rawan karena masa tenang paling mepet dengan hari pemungutan suara. Pertaruhan menang-kalah ada di masa tenang. Kandidat berupaya supaya para pemilih yang telah memutuskan pilihan kepada ang kandidat mantap pada pilihan mereka.

Bersamaan dengan itu, kandidat berupaya menarik pemilih yang belum memutuskan pilihan mereka untuk memilih sang kandidat. Di sisi lain, kandidat juga berusaha keras agar pemilih yang telah menentukan pilihan kepada kandidat lain mengalihkan pilihan mereka kepada sang kandidat. Kandidat melakukan semua itu untuk memenangi pilkada. Tak mengapa bila semua itu dilakukan selama masa kampanye.

Hal-hal tersebut merupakan pelanggaran bila dilakukan di masa tenang. Celakanya, karena masa tenang paling dekat dengan hari pencoblosan, kandidat boleh jadi tak kuasa menahan diri, bersiasat dengan segala cara supaya mereka tampil sebagai kepala daerah terpilih. Serangan fajar, politik uang, kampanye terselubung, intimidasi fisik ataupun verbal, bahkan pemilih siluman, menjadi siasat yang lazim dilakukan para kandidat di masa tenang.

Indikasi terjadinya politik uang amat kuat. Di pilkada DKI, misalnya, pemberian arloji oleh salah satu kandidat diduga sebagai politik uang. Lalu, Panitia Pengawas Pemilihan Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, menangkap pelaku politik uang Rp300 juta lebih. Kehadiran media sosial menjadi wahana mempermudah siasat mereka. Tengoklah, misalnya, bagaimana Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono menulis panjang lebar di akun Facebook-nya.

Di situ ia menyudutkan kandidat petahana sembari secara tersirat mengajak orang memilih putra kesayangannya yang ikut bertanding di Pilkada DKI. SBY meng-upload tulisannya itu di penghujung tanggal 11 Februari, menjelang berlakunya masa tenang tanggal 12 Februari. Jangan-jangan itu sebuah siasat agar aman dari sempritan Badan Pengawas Pemilu karena tulisan itu diunggah pada masa kampanye.

Namun, tulisan itu tetap bertengger dan menjadi viral di media sosial hingga masa tenang. Bila itu sebuah siasat, kita sungguh menyayangkan hal tersebut. Bila ingin disebut negarawan, semestinya SBY sanggup menahan diri bersiasat seperti itu demi memenangkan anaknya. Bila SBY menginginkan Agus Yudhoyono menjadi Gubernur DKI, menangilah pilkada dengan cara-cara elegan, bukan dengan siasat tak patut.

Oleh karena itu, kita mendesak Bawaslu mengusutnya untuk membuktikan apakah ada pelanggaran berupa kampanye terselubung di masa tenang dalam tulisan di akun Facebook SBY itu. Kita juga mendesak Bawaslu dan Polri mewaspadai dan menindak serangan fajar, politik uang, dan intimidasi, siapa pun pelakunya, dari kandidat mana pun mereka. Kita menginginkan pilkada serentak yang berkualitas.

Pilkada serentak dikatakan berkualitas bila para kandidat mampu menahan diri berbuat curang, termasuk menyalahgunakan kekuasaan oleh kandidat yang masih menjabat. Namun, pilkada serentak juga disebut berkualitas bila ada ketegasan hukum manakala terjadi pelanggaran.


KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

KPK Yakin Mampu Jawab Argumentasi Praperadilan Novanto

9 hours Ago

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bakal memberikan jawaban atas gugatan praperadilan Setya Nov…

BERITA LAINNYA