Merdeka Memilih

   •    Rabu, 19 Apr 2017 07:31 WIB
pilgub dki 2017
Merdeka Memilih
Merdeka Memilih

Pada tahap itulah biasanya semua konsentrasi bakal tertuju. Termasuk tidak menutup kemungkinan adanya konsentrasi massa berdalih pengawasan yang justru berpotensi mengganggu suasana final pemungutan suara yang sejuk dan damai. Tak bisa dimungkiri, pilkada DKI Jakarta kali ini memang istimewa. Suhunya tak sekadar hangat, tapi sudah panas.

Sebagian orang makin memperumit situasi dengan memandang pilkada seolah sebuah arena pertempuran. Sayangnya, bukan isu produktif yang dipertarungkan dalam pertempuran itu, melainkan isu-isu tak penting, termasuk menyeret isu SARA. Tak perlu kaget bila di pilkada DKI Jakarta kali ini nuansa emosional lebih terangkat, jauh meninggalkan rasionalitas dan akal sehat. Provokasi dan intimidasi lebih sering dilakukan ketimbang membangun diskusi dan inovasi.

Adu program hanya sekali-sekali, tetapi adu ujaran kebencian bisa ribuan kali. Namun, apa pun kondisi dan situasinya, hari ini ialah final. Hari ini saatnya bagi warga Ibu Kota menggunakan hak pilih untuk memilih pemimpin yang mereka yakini dan percaya dapat membawa Jakarta ke arah yang lebih baik. Karena itu, segala suasana panas tersebut tak seharusnya membuat rakyat ragu atau takut mendatangi tempat pemungutan suara.

Godaan politik uang, provokasi, dan intimidasi boleh jadi akan tetap ada hingga menjelang detik-detik pencoblosan. Meski demikian, bukankah rakyat sekarang sudah semakin cerdas dan lebih mudah mengabaikan hal-hal seperti itu? Bukankah dalam politik Indonesia yang katanya tengah beranjak dewasa ini pemilih juga semakin dewasa dalam berdemokrasi?

Dari sisi yang lain pun tak ada yang perlu membuat gentar. Kepolisian RI dan TNI juga sudah berkomitmen akan menjaga pilkada DKI Jakarta putaran kedua berlangsung aman dan damai. Polri tak hanya mengeluarkan maklumat larangan mobilisasi massa, bahkan juga berjanji akan menindak tegas siapa pun yang mencoba mengganggu pemungutan suara. Dengan jaminan-jaminan itu, sekali lagi, rakyat tak perlu ragu datang ke TPS.

Gunakan hak demokrasi Anda dengan rasa merdeka, tanpa tekanan, tanpa rasa takut. Undang-undang melindungi pemenuhan hak tersebut. Justru bila kita menyerah pada godaan dan tekanan, itu berarti kita telah membiarkan aspirasi yang sesuai hati nurani dan akal waras menguap tanpa arti. Ajang pemilu sering diartikan dengan istilah pesta demokrasi. Maknanya, hajatan demokrasi, termasuk pilkada, seharusnya dijadikan sebagai perhelatan yang menggembirakan rakyat.

Akan aneh bila sebuah pesta justru memunculkan rasa takut karena suguhannya penuh tekanan dan intimidasi. Karena itu, mari rayakan pesta demokrasi di Ibu Kota ini dengan kegembiraan dan kemerdekaan. Itu akan menjadi modal sangat berharga karena pilkada DKI Jakarta dituntut bisa menjadi contoh dari kedewasaan berdemokrasi bangsa ini.

Pilkada bukan semata ajang mencari pemenang dan menyingkirkan yang kalah, melainkan juga arena memilih pemimpin mumpuni untuk memuliakan daerah tersebut.
Maka, yang menang tak harus jemawa, yang kalah tak perlu marah. Energi kita semua masih sangat dibutuhkan seusai pesta untuk merajut kembali persaudaraan anak bangsa yang sempat terkoyak karena beda pilihan dalam pilkada.